Cara Orang Kamboja Meramalkan Cuaca

Ramalan cuaca yang paling jitu dan dipercaya masyarakat.

INDONESIA

Jumat, 03 Jan 2014 16:44 WIB

Author

Vitri Angreni

Cara Orang Kamboja Meramalkan Cuaca

Kamboja, ramalan cuaca, festival, upacara membajak kerajaan, Vitri Angreni

Ada banyak cara ilmiah untuk meramalkan cuaca dan menentukan waktu panen, tapi orang Kamboja punya cara sendiri. Ritual meramal cuaca ini dilakukan secara tradisional dan dirayakan secara nasional setiap tahun.

Ada 3 upacara yang dilakukan untuk memperoleh ramalan cuaca yang jitu.

Pertama, Upacara Membajak Kerajaan atau Pithi Chrat Preah Neanng Korl dalam bahasa Khmer.

Upacara ini sejak zaman dahulu kala selalu dipimpin sang Raja. Dalam ritual ini, ramalan diperoleh dengan melihat apa yang dipilih lembu-lembu kerajaan sebagai makanan mereka. Ramalannya mencakup epidemi, banjir, panen yang baik dan curah hujan yang berlebihan.

Pada saat upacara, lembu-lembu kerajaan akan dilepaskan dari baju besinya dan dibawa menuju 7 nampan emas berisi beras, jagung , biji wijen, kacang-kacangan, rumput , air dan anggur. Ini semua adalah suguhan yang bisa dipilih lembu.

Panen akan lebih baik jika mereka memilih beras. Hujan akan berlimpah jika mereka minum air. Tetapi kesulitan dikhawatirkan muncul jika mereka makan rumput atau minum alkohol.

Dalam sebuah upacara, lembu hanya memilih tiga nampan yang terdiri dari beras, jagung dan kacang-kacangan. Sementara 4 nampan lainnya diabaikan. Dengan begitu, maka ramalan yang dihasilkan saat itu adalah hasil panen padi sedang-sedang saja, tapi hasil panen tanaman lain seperti jagung dan kacang-kacangan  sangat bagus.

Karena lembu kerajaan hanya mendengus di nampan air dan berpaling dari anggur, diramalkan para petani tidak akan mengalami banjir yang serius .

Upacara  Membajak Kerajaan berawal ketika Raja Kamboja yang memerintah saat itu menelusuri alur sawah di ibukota dan meresmikan musim membajak. Sekarang ritual ini dilakukan pada awal musim hujan pada akhir Mei setiap tahunnya. Saat upacara, perwakilan raja akan mengambil peran sebagai Raja Meakh, yang memimpin kuk dan bajak, dan Ratu Mehour, yang menabur benih. Setelah mengelilingi lapangan tiga kali, prosesi berhenti di sebuah kuil di mana Brahmana meminta perlindungan dari para Dewa.

Dua upacara lainnya adalah Festival Air atau Pithi Bonn Om Touk dan upacara mengenang bulan purnama atau Ak Ambok Sampeah Preah Kher.
 
Kedua festival ini biasanya dirayakan pada akhir Oktober . Tetesan dari pembakaran lilin yang dibakar selama upacara memprediksi penyebaran curah hujan di berbagai provinsi di seluruh negeri.

Setiap tahun, petani Kamboja cemas menunggu prediksi pada akhir upacara-upacara ini yang ramalannya sangat mereka percayai. Karena kebanyakan rakyat  Kamboja sampai saat ini masih berpegang teguh pada tradisi sebelum mengambil keputusan tentang banyak hal. (tourismcambodia.com, vietnambudgettour.com)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja