ADVERTORIAL

The 9th BWCF 2020: Bhumisodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara

BWCF ke-9 ini diturunkan dalam sesi pidato kebudayaan, simposium, forum call for papers, seni pertunjukan, peluncuran buku, dan ceramah. Juga acara tetap BWCF yaitu jumpa penerbit dan meditasi yoga

RAGAM

Sabtu, 28 Nov 2020 10:41 WIB

The 9th BWCF 2020: Bhumisodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D saat membuka The 9th BWCF 2020 secara virtual

Secara resmi The 9th Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 dibuka oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D. pada pukul 10.00 WIB langsung melalui kanal YouTube: Borobudur Writers & Cultural Festival.

Pada BWCF yang ke-9 ini, tema yang diangkat adalah Bhumisodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara yang berlangsung 19-23 November 2020 secara daring. Tema ini diangkat dengan kesadaran penuh di tengah berlangsungnya pandemi virus Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia. Wabah ini tidak sekadar virus yang merusak kerja pernafasan manusia, lebih dari itu wabah ini berdampak pada seluruh jaringan yang membentuk peradaban manusia, tak terkecuali peradaban Nusantara.

Dari situlah BWCF ke-9 ini diturunkan dalam sesi pidato kebudayaan, simposium, forum call for papers, seni pertunjukan, peluncuran buku, juga ceramah. Tidak ketinggalan mata acara tetap BWCF yaitu jumpa penerbit dan meditasi yoga.

Adaptasi juga harus kami lakukan pada acara yang biasanya dilakukan di Kompleks Candi Borobudur, menjadi daring seperti saat ini.

Diawali program Pidato Kebudayaan oleh KRT Manu J. Widyasěputra dengan topik: Pandemik Aji Caṇḍabirava dalam Bratayuda Jayabinaŋun Menurut Sěrat Bratayuda. Program berikutnya adalah Launching Buku dan simposium yang berlangsung selama festival yang membahas topik seputar penyakit, seni pertunjukan, seni pertunjukkan, juga revolusi sosial.

BWCF ke-9 juga menggelar acara tribute kepada dua seniman besar Indonesia yang wafat belum lama ini, yaitu; tokoh meditasi gerak Suprapto Suryodarmo dan sastrawan Ajip Rosidi. Penghormatan itu kami beri tajuk Amerta: Tribute to Suprapto Suryodarmo, dan Jatiniskala: Tribute to Ajip Rosidi.

Morning Meditation dan Yoga yang telah menjadi kegiatan khas BWCF sejak 2017, kali ini dilangsungkan dengan webinar bersama Brenda i-e McRae dari Yayasan Dhamma-Sukha dan Yudhi Widdyantoro dengan tema “Nature Healing”.

Ceramah Umum dari Dr. Hudaya Kandahjaya yang juga merupakan Penasehat BWCF. Dr. Hudaya membabar tema utama BCWF tahun ini tentang makna Bhūmiśodhana.

Pada hari ke 3 BWCF virtual dibuka dengan program ceramah umum sesi ke 2. Bersama Dr. Fadjar Ibnu Tufail yang mencermati tentang “Digitalisasi Borobudur Sebagai Kerja Ontologis”.

Program lainnya adalah Baca Relief, salah satu program khasnya BWCF yang biasanya dilaksanakan langsung di candi Borobudur pada pagi hari sebelum matahari meninggi. Dalam format webinar ini, bersama dengan Dr. Destario Metusala dan Drs. Handaka Vijjananda Apt, program baca relief menghadirkan ceramah membedah aneka relief tumbuhan di panel-panel Lalitavistara candi Borobudur sebagai upaya merekonstruksi diversitas tumbuhan di Jawa Kuno. Ceramah ini memperlihatkan perspektif masyarakat Jawa Kuno terhadap keragaman tumbuhan.

Secara khusus dalam festival on line ini juga disuguhkan webinar yang diberi tajuk Forum Call for Papers. Bekerjasama dengan Direktorat Pengembangan & Pemanfaatan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan Penerbit Ombak dari Yogyakarta, bersama-sama menerbitkan buku berjudul: Menolak Wabah (Suara-suara dari Manuskrip, Relief, Khazanah Rempah dan Ritual Nusantara). Buku ini tersusun dari kumpulan makalah para penulis yang mengirimkan artikelnya ke progam Call for Papers yang panitia buat.

Program Bedah Buku Drs. Handaka Vijjanana Apt membedah 5 buku karya terbaru dari Bhikku Anandajoti yang berkisahkan relief-relief Borobudur. Juga ada pertemuan antara penulis dengan penerbit akan hadir pada program Temu Penerbit bersama Dalang Publishing LLC yang berlokasi di Amerika Serikat.

Terakhir, Sang Hyang Kamahayanikan, yaitu penghargaan yang menjadi ciri khas Borobudur Writers and Cultural Festival. Penghargaan ini diberikan kepada individu atau kelompok yang telah berkontribusi besar dalam kajian budaya dan sejarah Nusantara, baik itu sejarawan, sastrawan, arkeolog, rohaniwan, filolog dan sebagainya. Tahun ini pada BWCF ke-9, Sang Hyang Kamahayanikan Award diberikan kepada Dr. Riboet Darmosoetopo atas jasa dan dedikasi beliau dalam menggali dan melestarikan manuskrip nusantara.

Agenda tahunan BWCF ini dapat terselenggara atas dukungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, PT. Bank Central Asia, Galery Cemara bersama Studio Banjarmili, Laboratorium Sinema, Penerbit Ombak, Uvindo, dan mitra-mitra media.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INDEX

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Pandemi dan Kesejahteraan Jurnalis dalam Krisis

Kabar Baru Jam 8

Seperti Apa Tren Wisata 2021?

Kabar Baru Jam 10