Kesehatan Bumi dan Mental

Organisasi psikiater di Amerika Serikat, the American Psychiatric Association, menjelaskan bagaimana krisis iklim ini mengganggu kesehatan mental

Foto: Ian RX/Unsplash

Jumat, 20 November 2020

Perubahan iklim membawa dampak besar bagi kehidupan kita, tak hanya pada fisik, tapi mental kita. Organisasi psikiater di Amerika Serikat, the American Psychiatric Association, menjelaskan bagaimana krisis iklim ini mengganggu kesehatan mental kita juga. Podcast Climate Tales mengajak kita melihat perubahan iklim dari sisi lain.

Foto: Christian Newman/Unsplash

KBR, Jakarta- Jadi kalau aku sudah jenuh banget, ya sudah aku tinggal ke depan. Nyiram-nyiram, ngecek tanaman, nutrisinya cukup atau nggak, atau ada yang perlu dipanen atau nggak. Ya gitu sih..

Resita Dwi Ayuni adalah ibu rumah tangga asal Jember, Jawa Timur.

Baginya berkebun adalah terapi.

Ia merasa lebih tenang dan bisa mengendalikan anxiety atau gangguan kecemasan yang kerap ia rasakan.

Jadi kayak kemarin-kemarin saja kita mau beli sayur itu masih mikir gitu loh. Jadi aku paling beli sayur di tempat-tempat yang aku yakin itu aman gitu kan. Jadi kalau sekarang jadi makin yakin kan kalau mau konsumsi sayur, oh memang nggak pakai pestisida. Ini kita benar-benar pakai yang organik pupuknya. Jadi bahan-bahan yang masuk ke dalam tubuh juga aman.

Resita bahkan merasa gangguan kecemasannya berkurang saat memakan sayuran yang ditanam sendiri.

Ia bisa yakin kalau sayurannya bebas pestisida, ia pun bisa membuat pupuk kompos sendiri.

Apa yang dirasakan Resita adalah eco-anxiety alias kecemasan terkait hubungan manusia dengan lingkungan.

Istilah ini diungkap dalam riset tahun 2017 dari The American Psychiatric Association, yang memperlihatkan kaitan antara perubahan iklim dan kesehatan mental.

Dalam jurnal itu disebut, perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrim, kebakaran hutan, banjir serta terancamanya sumber pangan kita bisa memicu gejala stres, depresi, gangguan kecemasan dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

“Ini kan nyata ya. Kayak misalnya sekarang kita tidak bisa memprediksi mana musim hujan mana panas atau kalau di Indonesia ya. Jadi yang timbul pertama adalah apa? Kecemasan. Kecemasan itu kalau tidak di-handle dengan baik ya jadi akan Anksietas disorder, atau anxiety disorder. Dan menurut penelitian anxiety disorder itu adalah gangguan mental yang paling banyak diderita oleh seluruh orang di dunia gitu. Munculnya dari kecemasan.

Itu tadi Igi Oktavianti, salah satu founder Bipolarcare Indonesia, wadah kelompok pendukung bagi Orang dengan Bipolar di Indonesia, yang terbentuk sejak 2013 silam.

Ia adalah orang dengan Bipolar. Ia pun merasakan kecemasan itu.

Misalnya kita breakdown dari pemanasan, kenaikan suhu bumi. Jadi lebih panas ya. Jadi gini, secara logika saja kalau panas, biasanya emosinya naik. Terus harusnya hal-hal yang bisa dibicarakan dengan kepala dingin, calm gitu ya. Itu jadi emosi, gitu kan. Itu baru yang panas. Dan memang studi-studi mengatakan bahwa pada suhu panas, orang cenderung untuk berkonflik. Terus melakukan hal-hal yang berbahaya. Mulai dari yang menyakiti orang lain, sampai menyakiti diri sendiri. Itu munculnya adalah dari tadi, satu kecemasan, kedua ketidaknyamanan.

Foto: Li An Lim/ Unsplash

Istilah ini diungkap dalam riset tahun 2017 dari The American Psychiatric Association, yang memperlihatkan kaitan antara perubahan iklim dan kesehatan mental.

Dalam jurnal itu disebut, perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrim, kebakaran hutan, banjir serta terancamanya sumber pangan kita bisa memicu gejala stres, depresi, gangguan kecemasan dan bahkan pikiran untuk bunuh diri.

“Ini kan nyata ya. Kayak misalnya sekarang kita tidak bisa memprediksi mana musim hujan mana panas atau kalau di Indonesia ya. Jadi yang timbul pertama adalah apa? Kecemasan. Kecemasan itu kalau tidak di-handle dengan baik ya jadi akan Anksietas disorder, atau anxiety disorder. Dan menurut penelitian anxiety disorder itu adalah gangguan mental yang paling banyak diderita oleh seluruh orang di dunia gitu. Munculnya dari kecemasan.

Itu tadi Igi Oktavianti, salah satu founder Bipolarcare Indonesia, wadah kelompok pendukung bagi Orang dengan Bipolar di Indonesia, yang terbentuk sejak 2013 silam.

Ia adalah orang dengan Bipolar. Ia pun merasakan kecemasan itu.

Misalnya kita breakdown dari pemanasan, kenaikan suhu bumi. Jadi lebih panas ya. Jadi gini, secara logika saja kalau panas, biasanya emosinya naik. Terus harusnya hal-hal yang bisa dibicarakan dengan kepala dingin, calm gitu ya. Itu jadi emosi, gitu kan. Itu baru yang panas. Dan memang studi-studi mengatakan bahwa pada suhu panas, orang cenderung untuk berkonflik. Terus melakukan hal-hal yang berbahaya. Mulai dari yang menyakiti orang lain, sampai menyakiti diri sendiri. Itu munculnya adalah dari tadi, satu kecemasan, kedua ketidaknyamanan,

Kata Igi, perubahan iklim juga mengubah cara orang bertahan.

Ada yang mampu melewatinya dengan baik, tapi ada juga yang merasa sampai ingin bunuh diri.

Perubahan iklim erat kaitannya dengan bencana alam kan. Bencana alam lebih-lebih lagi gitu. Itu mungkin paling mempengaruhi psikis orang yang terkena, karena ada proses reading ya. Ada proses kehilangan, minimal kehilangan harta benda, kehilangan neighborhood, kehilangan orang-orang yang dicintai, bapak, ibu, anak, dan sebagainya. Makanya kalau misalnya ada bencana, itu pasti nomor 1 pasti ada kebutuhan primer. Sandang, pangan, papan gitu ya. Tapi mereka juga biasanya didatangkan psikolog-psikolog gitu untuk membantu mereka menuju ke pemulihan.

Jadi ya itu tadi. Sangat, sangat berpengaruh perubahan iklim itu sebenarnya. Dan aku setuju itu bisa menyebabkan bunuh diri. Baik itu.. Bunuh diri itu kan dari depresi biasanya. Biasanya paling erat kaitannya dengan depresi.

Komunitas Bipolarcare kerap menggelar berbagai kegiatan untuk menyadarkan soal dampak perubahan iklim pada kesehatan mental.

Mereka juga menjadikan berbagai kegiatan penyelamatan lingkungan sebagai salah satu cara meredam stres.

Dari temu komunitas itu biasanya kita sharing-sharing, komunitas-komunitas apa saja, dari mana. Dan itu biasanya banyak tuh komunitas peduli lingkungan. Kita bisa belajar tuh dari sana. Termasuk misalnya komunitas ini penanaman mangrove. Kan mangrove itu apa sih. Mangrove saja kita apa sih.. Kenapa mesti kita menanam mangrove. Itu ternyata penting. Buat ekosistem misalnya.

“Dari situ biasanya kita teredukasi. Kita teredukasi akhirnya kita terapkan ke perilaku sehari-hari. Paling simpel adalah tidak membuang sampah sembarangan, itu kan satu hal yang penting banget ya. Simpel tapi penting. Terus sudah gitu misalnya, kalau setiap kegiatan Bipolar Care Indonesia itu, sudah tidak menggunakan plastik. Misalnya kita meminta mereka untuk membawa tumbler sendiri. Jadi kita menyediakan dispenser dan airnya, mengurangi penggunaan plastik.

Bagi para pejuang kesehatan mental, bertahanlah!

“Misalnya kalau di masa pandemi sekarang ini, orang hobi sekali.. Kan bumi lagi healing nih, karena manusianya kebanyakan di rumah. Dia lagi healing, lagi hibernasi lah. Itu banyak orang jadi hobi bercocok tanam gitu. Karena jadi lebih mudah gitu. Bunga bisa tumbuh dengan subur dan sebagainya kayak gitu-gitu.

“Kita nggak perlu menjadi Leonardo DiCaprio. Kita kan hanya melakukan hal-hal kecil saja. Misalnya ke (sensor) aku sekarang sudah tidak pernah lupa untuk membawa tas. Jadi dengan mental kita sehat, otomatis kita juga jadi lebih peka terhadap semua hal. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan di bumi ini. Termasum perubahan iklim. Karena ini penting banget. Karena kan ini satu-satunya tempat kita tinggal.