Sekolah Tatap Muka Saat Pandemi, Dinas Pendidikan Solo: Banyak Orang Tua Masih Bingung

"Sebagian masih menolak atau tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah, sebagian lagi mendukung anaknya segera masuk sekolah. "

NUSANTARA

Sabtu, 17 Okt 2020 09:27 WIB

Author

Yudha Satriawan

Sekolah Tatap Muka Saat Pandemi, Dinas Pendidikan Solo: Banyak Orang Tua Masih Bingung

Simulasi pembelajaran tatap muka di Solo, Jateng. (KBR/Yudha S.)

KBR, Surakarta- Dinas Pendidikan Pemkot Solo memberikan lembaran pernyataan pada orang tua siswa  terkait rencana  dimulainya pembelajaran tatap muka di sekolah. Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Solo, Etty Retnowati, mengatakan pro kontra masih terjadi pada orangtua siswa menyikapi rencana tersebut.

Menurut Etty, izin tetap berada di tangan orang tua siswa meski sekolah dan pemkot mulai melakukan tatap muka belajar mengajar di sekolah.

"Sebenarnya agak membingungkan ada pro kontra di orang tua siswa. Kami sudah sebar formulir ke orangtua siswa melalui sekolah, mensikapi rencana membuka kembali aktifitas belajar mengajar siswa di sekolah. Sebagian masih menolak atau tidak mengijinkan anaknya masuk sekolah, sebagian lagi mendukung anaknya segera masuk sekolah. Nanti karyawan, guru, dan siswa akan menjalani rapid tes sebelum mulai masuk di sekolah. Kita koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Kita coba di 2 SMP dan MTs." Ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemkot Solo, Etty Retnowati, Jumat (16/10).

Pemkot Solo sudah nelakukan simulasi pembelajaran tatap muka di sekolah pekan ini. Simulasi dilakukan di tingkat SMP.

Data Pemkot Solo sebanyak 90 ribu siswa dari tingkat PAUD, SD, SMP dan SMA/SMK sejak Maret  lalu menjalani pembelajaran daring karena pandemi.

Sebelumnya pemerintah memberi kelonggaran bagi sekolah di daerah zona kuning untuk menyelenggarakan belajar tatap muka. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan, banyak dampak negatif yang terjadi jika pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus dilakukan. Salah satunya mengganggu psikologi anak juga meningkatkan risiko anak putus sekolah.

“Bahwa efek daripada melakukan pembelajaran jarak jauh secara berkepanjangan, itu bagi siswa adalah efek yang sangat negatif dan permanen. Ada tiga dampak utama satu adalah ancaman putus sekolah, ada berbagai macam anak yang akhirnya terpaksa bekerja dan karena memang kondisi sekolah PJJ tidak optimal dengan koneksi internet akhirnya mereka putus sekolah, dan juga beberapa persepsi orang tua berubah mengenai peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal. Sehingga ancaman putus sekolah ini sesuatu yang real dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita." kata Nadiem dalam konferensi pers, Jumat (07/08).

Nabiem menambahkan, PJJ  tidak optimal pada pencapaian pelajar dan kesenjangan kualitas antara yang punya akses ke teknologi dan tidak itu semakin besar.

Untuk mengantisipasi semua konsekuensi negatif itu kementerian mengimplementasikan perluasan pembelajaran tatap muka untuk zona kuning. Selain itu meluncurkan kurikulum darurat untuk memberikan, fleksibilitas bagi semua peserta didik dan guru, penyederhanaan dan bantuan spesifik untuk bisa mengerjakan dan melakukan PJJ.


Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INDEX

Most Popular / Trending

Slovakia Akan Gelar Tes Covid-19 Gratis

Eps6. Masyarakat Peduli Api

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Hoaks Covid Terus Berjangkit