ADVERTORIAL

Perluas Super Deduction Tax bagi Pegiat Seni

Chatib Basri: Peraturan sudah ada, tinggal diperluas agar mencakup seni secara lebih luas. Apalagi dengan pandemi ini, banyak inisiatif seni seperti konser jarak jauh dan lain-lain yang perlu didorong

KABAR BISNIS

Selasa, 22 Sep 2020 10:38 WIB

Perluas Super Deduction Tax bagi Pegiat Seni

Jakarta – Kebijakan insentif pengurangan pajak yang kerap disebut super deduction tax berpotensi memajukan banyak sektor di Indonesia, termasuk seni. Namun, peraturan terkait super deduction tax yang memberi insentif pengurangan pajak hingga 300% tersebut baru mencakup sebagian kecil seni, antara lain seni lukis dan patung, animasi, batik, keramik, dan tata busana. Padahal, seni memberi manfaat banyak bagi semua orang, tak hanya seniman.

Menurut Chatib Basri, ekonom dan Menteri Keuangan RI tahun 2013-2014, dalam webinar Philanthropy Learning Forum pada Senin, 21 September 2020: ‘Seni, Si Pembuka Jalan’ tersebut, para seniman dan filantropi perlu bertemu dengan pemerintah untuk mendiskusikannya lebih lanjut. “Peraturan sudah ada, tinggal diperluas agar mencakup seni secara lebih luas. Apalagi dengan pandemi ini, banyak inisiatif seni seperti konser jarak jauh dan lain-lain yang perlu didorong. Ini kesempatan untuk bicara hal-hal seperti ini,” ucap pria yang saat muda aktif dalam kegiatan teater tersebut.

Sependapat dengan Chatib Basri, Co-chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia Erna Witoelar menganggap ini momentum yang tepat. “Pandemi menumbuhkan kreativitas teman-teman seni untuk menghibur masyarakat yang terkurung. Itu sangat mulia, apalagi dengan dana terbatas. Teman-teman filantropi dan pengusaha Indonesia yang belum mendukung seni, sekaranglah waktunya. Menumbuhkan seni adalah memajukan masyarakat,” kata Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah RI tahun 1999-2001 itu.

Dalam webinar ini, Direktur Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi, berbagi soal peran penting musik yang ditekuninya sejak kecil bagi kehidupannya. Ia menjadi lebih sensitif pada nada, ritme, logika, dan keseimbangan. Ia percaya pendidikan seharusnya tidak mengkotak-kotakkan rasio, kejiwaan, dan estetika sebagai hal yang terpisah. Maka, ia aktif dalam beragam inisiatif yang memadukan sains dan seni. Bersama Bosscha dan mitra lain, Premana mengadakan serangkaian acara saat gerhana matahari yang jadi platform edukasi sains dan seni bagi anak sekolah di Poso dan Tanjungpinang.

Setelah webinar ini, Koalisi Seni dan Filantropi Indonesia berkomitmen melanjutkan advokasi kebijakan agar filantropi seni dapat lebih mendukung ekosistem seni di nusantara. Dengan begitu, akan ada lebih banyak saudara kita yang dapat merasakan manfaatnya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - INDEX

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja