Share This

Pemerintah Tak Puas Defisit Perdagangan Agustus Turun USD 1 Miliar

Pemerintah mengaku kecewa dengan kinerja ekspor-impor pada Agustus 2018 yang masih mencatat defisit USD 1,02 miliar.

NASIONAL

Senin, 17 Sep 2018 20:27 WIB

Dian Kurniati, Winna Wijaya
Author

Dian Kurniati, Winna Wijaya

Ilustrasi: Proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). (Foto: ANTARA/ Aditya P)

KBR, Jakarta - Pemerintah mengaku kecewa dengan kinerja ekspor-impor pada Agustus 2018 yang masih mencatat defisit USD 1,02 miliar. Meski, nilai tersebut turun USD 1 miliar dibanding Juli 2018.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, defisit neraca perdagangan itu disebabkan impor minyak dan gas bumi yang sangat besar. Ia pun mengakui target penurunan impor melalui perluasan penggunaan biodiesel 20 persen (B20), belum terasa. Darmin beralasan, kebijakan itu baru dimulai 1 September 2018.

Meski begitu, importasi barang non-migas mulai bisa ditekan.

"Tapi turunnya hanya 1 persen. Kenapa? Sebenarnya non-migasnya sudah lumayan baik, dia sudah surplus. Tetapi yang migasnya, defisitnya masih agak besar," jelas Darmin di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (17/9/2018).

"Defisit dari migasnya lebih besar daripada surplus non-migasnya. Hasilnya ya, kita masih defisit 1,02 persen, walaupun itu sudah turun dibanding bulan lalu. Kalau bulanan," tambah Darmin.

Menurutnya, tren penurunan defisit bahkan surplus diperkirakan baru terasa pada neraca perdagangan September--yang akan diumumkan pertengahan Oktober 2018. Karena ia meyakini, importasi solar bakal menurun 20 persen seiring pemberlakuan B20.

Menurut hitungan pemerintah, kebijakan B20 bakal menurunkan impor dan mengehemat devisa USD 2,3 miliar.

Presiden Joko Widodo memanggil Menko Perekonomian Darmin Nasution bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santosa, dan Direktur Utama Pertamina (Persero) Nicke Widyawati untuk membahas isu perekonomian terkini, Senin (17/9/2018). Dalam pertemuan selama hampir tiga jam tersebut, isu yang dibahas di antaranya mengkaji kinerja ekspor-impor dan defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD) yang masih di angka 3 persen.

Soal defisit transaksi berjalan yang sampai menekan nilai tukar mata uang tersebut, Darmin optimistis bisa menekannya hingga ke angka 2,5 persen pada akhir tahun ini. Ia juga berjanji bakal menyusun kebijakan baru guna memperkecil defisit dan memperkuat rupiah.

Sebab Defisit

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), defisit bulanan sebesar USD 1,02 miliar pada Agustus 2018 dipengaruhi sektor migas. Kepala BPS Suhariyanto menerangkan, defisit sektor migas itu sebesar USD 1,66 miliar. Sedangkan sektor non-migas mengalami surplus sebesar USD 0,64 miliar.

"Kalau saya gabungkan nilai ekspor dan impor, kita bisa lihat bahwa neraca perdagangan pada bulan Agustus 2018 masih mengalami defisit sebesar 1,02 milyar USD," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (17/9/2018).

Kondisi defisit pada bulan ini diperngaruhi nilai ekspor migas yang turun 2,9 persen. Yakni tercatat pada Juli 2018 sebesar USD 16,24 miliar turun menjadi USD 15,82 miliar pada Agustus 2018.

Sedangkan impor pada Agustus 2018 turun 7,97 persen atau mencapai USD 16,84 miliar dibanding Juli 2018. Untuk impor migas bulan ini tercatat naik 14,50 persen atau mencapai USD 3,05 miliar dibanding bulan sebelumnya.

Sementara impor nonmigas bulan ini pun naik dibanding Juli 2018. Yang terbesar di antaranya golongan susu, mentega, telur, senilai USD 48,6 juta. Sementara penurunan terbesar adalah golongan mesin dan pesawat mekanik sebesar USD 296,3 juta.

Tiga negara pemasok impor komoditas nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2018 ditempati Tiongkok sebesar USD 28,78 miliar, diikuti Jepang USD 11,98 miliar, Thailand sebesar USD 7,29 miliar.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.