Share This

PVMBG: Gempa 7 SR di Lombok di Luar Perkiraan

Sebanyak 82 Warga Tewas, Ratusan Luka-Luka

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Senin, 06 Agus 2018 08:52 WIB

Kerusakan rumah akibat gempa 7,0 SR di Lombok (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8) pukul 18.36 WIB, terjadi di luar perkiraan lantaran lebih besar dibanding gempa pada pekan lalu, yang berkekuatan 6,4 SR. Kepala Bidang Gempa Bumi PVMBG, Sri Hidayati memperkirakan sumber gempa kali ini berasosiasi dengan Flores Back-Arc (Aktivitas Sesar Naik Flores). 

"Gempa susulan masih ada, mudah-mudahan gempanya tidak besar, walaupun sebenarnya biasanya gempa susulan lebih kecil dari gempa utama. Walaupun dibanding gempa yang minggu lalu, memang tidak tepat sama, tapi dalam satu segmen, satu zona. Artinya memang energinya tidak meluruh. Saya pikir akan meluruh terus, tapi ternyata ini masih ada lagi. Walaupun posisinya tidak sama persis dengan minggu lalu," kata Sri kepada KBR, Minggu (5/8).

Sri mengatakan, pusat gempa yang berada di kedalaman 15 kilometer juga tergolong dangkal, sehingga dampaknya terasa hingga Pulau Bali dan Pulau Jawa. Ia memperkirakan, posisi dan kedalaman gempa tersebut berasosiasi dengan Flores back-arc Thrust.

Korban Tewas 

Hingga Senin (6/8) pukul 02.30 WIB dini hari, tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa, ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerusakan. Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui aplikasi pesan Whatsapp mengatakan  ribuan warga lain mengungsi ke tempat aman. Aparat gabungan terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat.

Daerah terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram. Berdasarkan laporan dari BPBD Provinsi NTB, sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Saat kejadian, masyarakat panik dan berhamburan di jalan-jalan. Bangunan dan rumah yang sebelumnya sudah rusak akibat gempa pekan lalu menjadi lebih rusak dan roboh. Apalagi ada peringatan dini tsunami yang menyebabkan masyarakat makin panik dan trauma.

Korban luka-luka dirawat di luar puskesmas dan rumah sakit karena kondisi bangunan yang rusak. Selain itu gempa susulan terus berlangsung. Hingga pukul 22.00 WIB tadi malam, terjadi 47 kali gempa susulan dengan intensitas gempa yang lebih kecil. BMKG menyatakan bahwa gempa 7 SR tadi adalah gempa utama  dari rangkaian gempa sebelumnya. Artinya, kecil kemungkinan akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar.

Kepala BNPB Willem Rampangilei bersama jajaran BNPB telah tiba di Lombok Utara menggunakan pesawat khusus dari Bandara Halim Perdanakusuma. Tambahan bantuan logistik dan peralatan segera dikirimkan. 2 helikopter untuk mendukung penanganan darurat dikirimkan. BNPB terus mendampingi Pemda, baik Pemda Provinsi dan Kabupaten/Kota. Penanganan darurat terus dilakukan.

BNPB bersama BPDB, TNI, Polri, Basarnas, Kementerian PU Pera, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian BUMN, SKPD, NGO, relawan dan lainnya terus melakukan penanganan darurat. TNI akan memberangkatkan tambahan pasukan dan bantuan, khususnya bantuan kesehatan yaitu tenaga medis, obat-obatan, logistik, tenda dan alat komunikasi pada Senin (6/8) pagi.

Penyelamatan Diri

Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) menyebut warga memiliki inisiatif untuk menyelamatkan diri yang baik, saat terjadi gempa kemarin. Juru Bicara Basarnas NTB, I Gusti Lanang Wiswananda mengatakan, kebanyakan warga langsung keluar rumah dan berlarian menuju lapangan.

Selain itu, kata Lanang, warga juga langsung menghindari pantai saat muncul peringatan potensi tsunami. Menurutnya, respon tersebut sudah bagus untuk menghindari jatuhnya korban akibat tertimbun reruntuhan bangunan.

"Tim kami, personil kami, sudah berangkat ke lokasi, sesuai info yang kita terima. Karena saat ini warga panik, lalu lintas juga macet, mengarah ke timur, dan sebagian mengungsi ke beberapa tempat, seperti Islamic Center, untuk sementara," kata Lanang kepada KBR, Minggu (05/08/2018).

Lanang mengimbau warga agar tetap mewaspadai gempa susulan, meski diperkirakan skalanya lebih keci. Ia pun menyarankan warga tetap menghindari bangunan dan menginap di titik-titik pengungsian, yang biasanya dibangun di tengah lapangan. Apalagi, kata dia, Pemerintah telah memperpanjang masa tanggap darurat penanganan gempa, selama tujuh hari, hingga Sabtu (11/8). 


Editor: Fajar Aryanto

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.