Share This

Siapa Cawapres Pendamping Prabowo? Pengamat: Siapkan Rupiah

"Demokrat akan berkeras bahwa saya rasa dari istri atau anak SBY itu masuk, dan satu lagi PKS. PKS itu tetap ngotot ya."

, NASIONAL

Kamis, 26 Jul 2018 09:01 WIB

Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kedua kiri) menyaksikan keterangan pers yang disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) seusai pertemuan tertutu

KBR, Jakarta- Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Ade Armando menilai kelompok oposisi calon penantang petahana Presiden Jokowi tak solid. Ade berpandangan, proses tawar-menawar jabatan sebagai imbalan yang bakal didapat parpol pengusung cawapres belum menemui titik temu hingga kini.

"Sampai sekarang belum bisa dipastikan ya karena tidak  solid pada dasarnya kan. Karena ternyata masing-masing partai itu, punya kebutuhan untuk memperoleh apa," ujar Ade.

Menurut Ade, kesolidan mereka bergantung pada kepentingan mereka masing-masing parpol dalam menghadirkan Cawapres. Bukan disebabkan ideologi, arah kebijakan atau sikap politik tertentu. Menurut Ade, justru hal seperti itu penyelesaiannya akan lebih rumit. 

Ade mengatakan, kubu oposisi Jokowi saling memaksakan Cawapres dari masing-masing parpolnya. Kata dia, terutama sekali dari Partai Demokrat dan PKS terlihat ngotot memasangkan cawapresnya bersama Prabowo.

"Saya rasa dua itu. Demokrat akan berkeras bahwa saya rasa dari istri atau anak SBY itu masuk, dan satu lagi PKS. PKS itu tetap ngotot ya. Artinya kalau sampai dia mau berkompromi lebih, ya sudah tidak usah jadi Cawapres tapi menteri. Jadi harus ada sesuatu yang ditawarkan oleh Gerindra," kata Ade kepada KBR, Rabu (25/7/18).

Menurut ade apabila salah satu Parpol bersedia menyiapkan modal besar. Hal itu akan sangat memengaruhi proses negosiasi dalam kubu oposisi tersebut.

"Semakin bisa anda menyiapkan rupiah yang tinggi, anda mungkin lebih punya posisi tawar yang lebih untuk memperoleh kursi Cawapres itu. Hal-hal semacam itu yang tidak kita ketahui di luar. Orang bespekulasi Gerindra dan PKS tidak  punya uang," tuturnya.

Meski kondisi kubu oposisi tampak kurang solid, menurut Ade, hal itu tidak menutup kemungkinan keempat partai untuk tetap berkoalisi. Berkaca pada proses Pilkada 2017 di Jakarta. Pada mulanya Anies Baswedan juga tampak lemah. Akan tetapi, begitu nama Anies muncul, semua kubu pendukung mulai bergabung.

"Ini bisa begitu. Cuma pertanyaannya adalah, ada tidak  nama cukup besar untuk mempersatukan, menarik perhatian semua pihak itu? Yang tinggi kan Anies, cuma mau tidak Demokrat menggunakan Anies? PKS pakai Anies? Tapi kalau Anies maju, barangkali bisa meningkatkan suara," imbuhnya.

Sebelumnya Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan sejumlah petinggi parta. USai bertemu dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) semalam,  SBY   menginginkan kadernya menjadi cawapres.

"Saya harus mengatakan berkali-kali bagi Demokrat, Cawapres itu bukan harga mati. Tetapi menjadi harapan kader kalau salah satu putra partai kami punya peluang untuk menjadi Cawapres," kata SBY usai menggelar pertemuan tertutup  Zulkifli Hasan  di rumahnya, Jalan Mega Kuningan Timur VII Jakarta, Rabu (25/7/18).

SBY   mengatakan, bahwa kerangka koalisi partai oposisi ke depan sepenuhnya ada di tangan Prabowo selaku Capres. Dia meyakini, hal itu akan segera dibahas oleh pendukung Parpol koalisi.

"Tetapi sebagaimana yang saya garisbawahi tadi malam itu. Koalisi yang kokoh, yang efektif, dan bisa bertahan baik menghadapi goncangan, apabila dilandasi niat baik untuk berkoalisi," terangnya.

Terkait pertemuan dengan PAN, SBY menyebut pembahasannya sebatas merumuskan visi-misi. Serta mempelajari hasil survei terkait evaluasi masyarakat terkait pemerintah Jokowi. Maka, hingga kini SBY belum memiliki sikap sepakat tidaknya berkoalisi dengan PAN.

"Saya tidak tahu. Apakah Pak Zul nanti bersama-sama dengan Demokrat dalam satu koalisi atau berbeda. Tapi rasanya chemistry kita cocok selama ini. Mudah-mudahan ditakdirkan bersama juga nanti," ujar SBY. 

Setelah menerima Ketua Umum Partai Geridra Prabowo Subianto pada Selasa (24/07) malam dan Ketua Umum Partai PAN Zulkifli Hasan pada Rabu (25/07) malam. Rencananya kata SBY, pertemuan selanjutkan akan dilakukan dengan PKS. 

"Saya dengan senang hati membuka pintu. Hubungan saya dengan Salim Assegaf (Eks-Mensos era SBY dan kini Ketua Majelis Syuro PKS) dan Sohibul Iman (Presiden PKS) baik," imbuhnya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.