Mengejar Devisa dari Pariwisata

Tanpa memperhatikan aspek manusia dan lingkungan maka yang terjadi hanya eksploitasi habis-habisan. Ujung-ujungnya, lingkungan dan warga dapat buntung, bukan untung.

OPINI | EDITORIAL

Selasa, 18 Des 2018 01:40 WIB

Author

KBR

Festival pasar terapung magnet pariwisata Indonesia

Festival Pasar Terapung Lok Baintan menjadi ajang promosi pariwisata Kalimantan Selatan. (Foto: Antara/Bayu).

Di penghujung tahun 2018 ini, apakah Anda sudah merencanakan liburan? 

Berwisata kian jadi asupan wajib banyak orang untuk menghilangkan penat. Indonesia yang kaya akan beragam potensi wisata juga makin bersandar pada devisa dari sektor ini. Apalagi mulai tahun depan, pariwisata ditetapkan sebagai penyumbang devisa terbesar. Ini ditopang juga dengan status Indonesia sebagai 1 dari 10 besar negara dengan peningkatan pariwisata terpesat di dunia.

Untuk itu, sektor ini mesti disiapkan secara serius. Pengembangan pariwisata  harus memperhatikan aspek manusia dan lingkungan, tak semata mengincar pendapatan ekonomi belaka. Tanpa itu maka yang terjadi hanya eksploitasi habis-habisan. Ujung-ujungnya, lingkungan dan warga dapat buntung, bukan untung. 

Pengembangan tempat wisata juga sebaiknya tak semata mengandalkan titik yang bagus untuk selfie. Kita harus lebih banyak menggali cerita dari setiap tempat wisata dan mengolahnya sebagai daya tarik. Dengan begitu wisatawan tak hanya datang untuk melihat tukik di suatu pantai, misalnya, tapi diajak ikut melestarikan lingkungan pantai. Nilai tambah seperti itulah yang bisa membuat orang datang lagi dan lagi.

PR sektor ini masih banyak - dari urusan infrastruktur seperti jalan sampai listrik, peningkatan kapasitas manusia dan tempat wisata lokal sampai promosi yang harus terus digencarkan. Dan ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang erat. Indonesia jelas punya modal yang jauh lebih besar ketimbang negara tetangga. Target devisa harus jadi pelecut sekaligus peluang untuk mengembangkan pariwisata yang bermanfaat bagi warga setempat. Tanpa dukungan itu, tempat wisata tak bakal maju. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Foto Ikatan Besar Mahasiswa UI Tidak Akui Jokowi - Ma'ruf Hoaks

Jokowi Didesak Tuntaskan Kasus Pelanggaran HAM di Periode Kedua

Kanker Payudara dan Tubuh Perempuan

Kabar Baru Jam 15