Dari Bandung, Sebarkan Kerukunan Umat

Seluruhnya menunjukkan betapa masalah gesekan horisontal ini sebenarnya tak boleh dibiarkan terus berlangsung. Penyebaran kebencian yang dilakukan kelompok-kelompok intoleran harus dihentikan. Aparat keamanan tak boleh melempem. Pejabat publik harus berdi

EDITORIAL

Kamis, 26 Des 2013 22:25 WIB

Author

KBR68H

Dari Bandung, Sebarkan Kerukunan Umat

walikota bandung ridwan kamil, miniatur toleransi beragama, GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, kelompok intoleran

Dari Bandung, Jawa Barat, kita mendengar kabar baik itu. Sehari sesudah Hari Raya Natal, Sang Walikota Mochamad Ridwan Kamil menyatakan keinginannya untuk menjadikan kota Bandung sebagai miniatur toleransi beragama. Keinginan itu ia ucapkan ketika menghadiri Open House Natal di Katedral Santa Petrus, Bandung, bersama Forum Kerukunan Umat Beragama.


Kita sambut tekad Walikota Bandung itu dengan semangat memperbaiki hubungan antar umat beragama yang banyak mengalami gangguan pasca reformasi. Indonesia yang plural, yang beragam, yang bhineka, memang wajib dijaga dan dipertahankan, terutama oleh pejabat publik yang sudah mendapat kepercayaan rakyat untuk memimpin.


Tentu pernyataan Ridwan Kamil ini masih harus diuji dalam praktik. Sebab sehari menjelang perayaan Natal, kita mendengar Jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Bandung tak bisa menjalankan ibadahnya. Sebuah kelompok intoleran memberitahu kepolisian setempat agar tak mengijinkan jemaat GBKP menjalankan ibadah Natal. Alasannya, gereja tersebut tidak memiliki ijin. Dan seperti biasa, kepolisian tak mau repot. 


Di Jakarta kita juga membaca, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi terpaksa menjalankan kebaktian Natal di depan Istana Negara. Tekanan kelompok intoleran memaksa mereka untuk terusir dari rumah Tuhannya. Ini adalah kali kedua sejak tahun lalu, mereka harus beribadah di depan kantor Presiden SBY. Tetapi, kita tahu, keluhan mereka tak pernah dihiraukan.


Kelompok minoritas lain yang juga acap mendapat persekusi adalah kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Di Sampang, kelompok Syiah diserang dan diusir dari tempat tinggalnya. Sedangkan kelompok Ahmadiyah diserang di berbagai wilayah, antara lain di Mataram dan Bogor. Penyerangan paling tragis terhadap kelompok Ahmadiyah terjadi pada 6 Februari 2011 di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Dalam aksi penyerangan ini, 3 orang tewas mengenaskan.


Sederet peristiwa intoleransi lain masih panjang daftarnya. Seluruhnya menunjukkan betapa masalah gesekan horisontal ini sebenarnya tak boleh dibiarkan terus berlangsung. Penyebaran kebencian yang dilakukan kelompok-kelompok intoleran harus dihentikan. Aparat keamanan tak boleh melempem. Pejabat publik harus berdiri di depan menyelamatkan konstitusi yang digerogoti pelan-pelan. 


Di sini, peran kepala daerah seperti Walikota Bandung Ridwan Kamil diperlukan. Tak boleh ada keraguan sedikit pun bagi para pemimpin untuk mencegah meluasnya tindakan intoleransi. Kebhinekaan sebagai kekayaan negeri mesti dijaga agar rumah keindonesiaan tetap nyaman bagi kehidupan bersama. 


Dari Bandung, kita berharap, rumah toleransi itu menyebar ke segala arah.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ragam Bisnis Sustainable Fashion

Kabar Baru Jam 8