Bung Karno

Bukankah sejarah memang tak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang semata? Dengan segala macam referensi yang mungkin berbeda satu sama lain, biarlah tafsir dan penilaian itu kembali kepada para penonton.

EDITORIAL

Kamis, 19 Des 2013 12:03 WIB

Author

KBR68H

Bung Karno

Film Soekarno, Bung Karno, Hanung Bramantyo, Bung Hatta, Syahrir

Film Soekarno beredar, film Soekarno digugat. Pengadilan Niaga yang menyidangkan gugatan Rachmawati Soekarnoputri akhirnya mengabulkan tuntutan dan memerintahkan film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini untuk ditarik dari peredaran.

Tapi film tetap diputar di bioskop. Dan beruntunglah para penonton yang terancam tak bisa menikmati film tentang tokoh pelaku sejarah Indonesia paling dikenal ini.

Kita tak sedang membicarakan film itu dari aspek sengketa perdatanya. Kita juga tak hendak bicara tentang kualitas pemeranan para pemain, plot, atau beragam adegan di dalam film yang pasti mengundang banyak penafsiran.

Bukankah sejarah memang tak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang semata? Dengan segala macam referensi yang mungkin berbeda satu sama lain, biarlah tafsir dan penilaian itu kembali kepada para penonton.

Satu hal yang mesti kita catat. Kita, publik dan warga Negara Indonesia,diuntungkan dengan pembuatan film-film bertema sejarah seperti film Soekarno ini.

Soekarno, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Bung Karno, adalah tokoh besar yang tak mungkin dihapus dari halaman sejarah republik. Sejak masa muda ia sudah banyak membaca, bergaul dengan banyak tokoh pergerakan lain, berdiskusi, dan bergerak dengan gagasan tunggal: memerdekakan bangsanya!

Ia mungkin memiliki beberapa kekurangan – sebuah penilaian yang kurang tepat, karena bisa jadi yang disebut kelemahan ini justru merupakan kekuatan yang tak dimiliki tokoh lain.

Sebagian orang mencap Bung Karno sebagai kolaborator Jepang.  Sebagian yang lain menudingnya sebagai tokoh flamboyan, yang cukup gampang jatuh hati kepada perempuan. Tapi siapa bisa menyangkal kalau Bung Karno adalah seorang orator ulung tanpa tanding, yang mampu memikat jutaan rakyat lewat pidatonya yang berapi-api?

Sekali lagi, dengan menonton film ini, kita disegarkan kembali untuk mengenali sejarah bangsa sendiri. Melalui Soekarno, juga Bung Hatta dan Bung Syahrir – selain para pemuda dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, kita diingatkan tentang betapa berharganya merawat kebebasan yang sudah berada dalam genggaman.

Kebebasan yang dibangun dari perjuangan puluhan atau bahkan ratusan tahun melawan penjajahan. Kemerdekaan yang disadari sepenuhnya bakal menjadi tanggungjawab bersama seluruh komponen bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang daerah, suku, maupun agama.

Betapa berharga semua yang telah mereka perjuangkan. Dan betapa mengkhawatirkan kalau hasil perjuangan itu dicabik-cabik oleh anak-cucu sendiri hanya karena tak mau menerima perbedaan yang sudah hadir sejak Indonesia sebelum merdeka?

Pesan inilah yang kita tangkap dari film Soekarno.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal