Kenapa Mesti Ribet?

Di Bantul kita dengar ada persiapan tradisi Sedekah Laut yang dibubarkan. Lokasi diobrak-abrik, meja dirusak, kursi dibanting. Kenapa? Tradisi sedekah laut dianggap syirik, bertentangan dengan agama.

OPINI , EDITORIAL

Senin, 15 Okt 2018 01:46 WIB

Author

KBR

Sedekah Laut

Warga membawa gunungan saat sedekah laut di Pantai Depok, Bantul, DI Yogyakarta, sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta atas melimpahnya hasil tangkapan ikan dan diberi keselamatan saat melaut. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah).

Dua peristiwa di akhir pekan kemarin menunjukkan kadar keberagaman yang kian mengkhawatirkan. 

Yang pertama, di Bantul, Yogyakarta. Dari sana kita dengar ada persiapan tradisi Sedekah Laut yang dibubarkan. Lokasi diobrak-abrik, meja dirusak, kursi dibanting. Kenapa? Karena tradisi sedekah laut dianggap syirik dan bertentangan dengan agama.

Yang kedua, tagar UninstalGojek yang masih merajai Twitter sampai semalam. Awal mulanya adalah pernyataan pribadi salah satu staf Gojek di media sosial terkait Hari Melela Nasional. Dia menyebut, Gojek menerapkan kebijakan non-diskriminasi kepada kelompok seperti LGBT  yang selama ini kurang terwakili. Ada juga pernyataan pendiri Gojek, Nadiem Makarim: ‘Kalau Anda tidak toleran pada keberagaman, maka Anda tidak tepat bergabung dengan Gojek’. 

Dua peristiwa ini menunjukkan turunnya kemampuan banyak orang di sekitar kita dalam menerima keberagaman. Sedekah Laut adalah tradisi yang berlangsung bertahun-tahun sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan penghasilan nelayan. Lantas tiba-tiba dicap syirik dan dibubarkan. Sementara kebijakan Gojek yang merangkul semua kelompok justru dicerca. Banyak juga yang mengunggah gambar kalau mereka sudah menghapus aplikasi Gojek. Padahal ada begitu banyak orang menggantungkan hidup mereka dari pekerjaan ini, dan tak ada kaitan apa pun dengan kebijakan internal Gojek. 

Tindakan reaktif sungguh bukan jawaban. Bahkan sebetulnya tak ada pertanyaan yang perlu dijawab. Sedekah Laut sudah berlangsung lintas generasi tanpa gesekan sosial apa pun. Sementara kebijakan internal Gojek tak berdampak pada performa kerja dan kualitas produk. Jadi kenapa mesti ribet? 

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kerusuhan Lapas Diduga Dipicu Praktik Diskriminasi