Gelombang Buku Merah

Begitulah politisi. Apapun bisa jadi amunisi untuk memperkuat posisi atau melemahkan kekuatan lawan. Tak perlu verifikasi atau menguji bahan. Bahkan tak ada soal memanipulasi data atau fakta.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 12 Okt 2018 03:28 WIB

Author

KBR

Amien Rais penuhi panggilan polisi

Amien Rais bersiap menjalani pemeriksaan di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, sebagai saksi terkait kasus berita bohong tersangka Ratna Sarumpaet. (Foto: Antara/Reno Esnir).

Penerbitan laporan jurnalistik oleh lima media yang tergabung dalam konsorsium IndonesiaLeaks , termasuk KBR memicu  gelombang. Gerakan antikorupsi dan pasang surut politik. 

Untuk yang terakhir ini kesabaran jurnalistik diuji. Utamanya dari celetukan dua kubu politik. Sebut saja Hasto Kristiyanto, Oesman Sapta Odang dan Amien Rais . Mereka menggunakan laporan itu sebagai alat untuk saling serang di tahun politik. Bahkan salah satu kubu menyebut laporan yang lahir dari proses verifikasi ketat ini tak lain sebagai produk abal-abal.

Begitulah politisi. Apapun bisa jadi amunisi untuk memperkuat posisi atau melemahkan kekuatan lawan. Tak perlu verifikasi atau menguji bahan. Bahkan tak ada soal memanipulasi data atau fakta.

Kebalikannya dengan kerja pewarta. Laporan atau bahan yang diterima dari manapun, bakal melalui pengujian ketat sebelum dipublikasikan. 

Jadi, sepatutnya para politisi tak  menggunakan laporan ini sebagai tempat berpijak untuk bermanuver politik. Baiknya,  turut mendorong penegak hukum mengusut perobekan barang bukti kasus korupsi, sekaligus membongkar aliran duit pengusaha impor daging sapi, Basuki Hariman.

Dalam buku merah catatan keuangan milik terpidana suap Hakim Mahkamah Konstitusi ini tertera beberapa tulisan yang diduga merujuk pada Tito Karnavian , ketika menjabat Kapolda Metro Jaya. Pada titik inilah seharusnya sikap para politisi diletakkan. Jangan sampai manuver politik malah mengaburkan inti dari proses penegakan hukum.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

Pernyataan Menhan TNI Terpapar Radikalisme Timbulkan Polemik

Kabar Baru Jam 7

News Beat

Kabar Baru Jam 20