Timnas U-19, Impossible is Nothing

Impossible is Nothing atau tidak ada istilah tidak mungkin. Kalimat itu dilontarkan petenis Belgia Justine Henin ketika memutuskan untuk kembali bermain di lapangan tenis setelah sempat istirahat selama dua tahun karena melahirkan.

EDITORIAL

Minggu, 13 Okt 2013 16:59 WIB

Author

KBR68H

Timnas U-19, Impossible is Nothing

timnas u-19, piala asia, impossible is nothing

Impossible is Nothing atau tidak ada istilah tidak mungkin. Kalimat itu dilontarkan petenis Belgia Justine Henin ketika memutuskan untuk kembali bermain di lapangan tenis setelah sempat istirahat selama dua tahun karena melahirkan. Tidak ada yang yakin bekas petenis nomor satu dunia itu bisa menjadi juara di turnamen Grand Slam Australia Terbuka. Dengan penuh percaya diri, Justin mengalahkan lawannya satu demi satu hingga akhirnya sukses mengangkat trofi Australia Terbuka.

Hal yang sama juga dialami timnas sepak bola Indonesia ketika akan menghadapi Korea Selatan di pertandingan terakhir penyisihan grup G, Piala Asia U-19. Lawan yang dihadapi Evan Dimas dan kawan-kawan jelas bukan lawan yang ringan. Korea Selatan adalah juara Piala Asia U-19 sebanyak 12 kali. Satu catatan lagi, timnas Indonesia belum pernah bisa menang atas Korea ketika bertanding di stadion Gelora Bung Karno sejak 1975. Menang atas Korea mungkin ibarat mimpi di siang bolong.

Namun, sepak bola bukan matematika di mana 1+1 adalah 2. Dengan dukungan puluhan ribu penonton, anak asuh Indra Sjafrie itu tampil penuh percaya diri. Melalui layar televisi, kita ikut merasa bangga ketika Evan Dimas dan kawan-kawan mampu memainkan sepak bola yang menarik dengan umpan dari kaki  ke kaki. Mereka juga tidak minder meski lawan yang dihadapinya adalah negara Asia yang tidak pernah absen di Piala Dunia sejak 1986.

Kapan anda terakhir kali melihat pemain timnas Indonesia bisa mendominasi jalannya pertandingan selama 90 menit melawan tim kuat dari Asia? Entahlah, mungkin satu atau dua dekade lalu. Sabtu malam lalu, Evan Dimas, Ilham Udin, Maldini dan pemain lainnya bisa dengan mudah mengecoh pemain Korea Selatan. Shoot on goal atau tembakan ke gawang yang dilakukan pemain Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan pemain Korea.

Hattrick alias tiga gol yang dicetak sang kapten Evan Dimas sudah cukup untuk membawa Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia U-19 yang akan digelar di Burma tahun depan. Ini memang bukan kali pertama Indonesia tampil di ajang tersebut. Pada 2004, timnas yang ketika itu dilatih Peter White juga bisa lolos ke putaran final. Bahkan, pada 1961, Indonesia juga pernah menjadi juara.

Jerih payah Evan Dimas dan kawan-kawan layak diacungi jempol. Karena, mereka hanya punya waktu istirahat sekitar tiga minggu setelah menjadi juara di Piala AFF U-19. Gelar juara yang diberikan Ravi Murdianto dan kawan-kawan sekaligus mengakhiri puasa gelar juara timnas Indonesia selama 22 tahun. Dengan kasat mata, kita bisa melihat bagaimana tangguhnya stamina pemain timnas U-19. Selama 90 menit, mereka bermain menyerang dan mengurung lini pertahanan Korea meski sudah unggul.

Pemain pilihan Indra Sjafrie ini memang masih pemain amatir. Namun, daya tahan, stamina serta teknik yang mereka miliki tidak kalah atau bahkan lebih baik dibandingkan timnas U-23 atau timnas senior. Kemampuan mereka mengeksekusi bola mati menjadi gol sudah tidak diragukan lagi. Begitu juga dengan kehebatan Ravi Murdianto di bawah mistar gawang. Menjadi juara di putaran final Piala Asia U-19 tahun depan mungkin bukan lagi ibarat pungguk merindukan bulan. Bagi timnas U-19, impossible is nothing.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme