Siswi Korban Perkosaan Tetap Punya Hak Bersekolah

Seorang siswi SMP di Purworejo dikeluarkan dari sekolah. Ia dikeluarkan bukan karena sering bolos tetapi karena dia adalah korban perkosaan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, kejatuhan cat lagi.

EDITORIAL

Kamis, 17 Okt 2013 17:39 WIB

Author

KBR68H

Siswi Korban Perkosaan Tetap Punya Hak Bersekolah

korban perkosaan, sekolah, siswi dikeluarkan

Seorang siswi SMP di Purworejo dikeluarkan dari sekolah. Ia dikeluarkan bukan karena sering bolos tetapi karena dia adalah korban perkosaan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, kejatuhan cat lagi. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan nasib siswi tersebut. Menjadi korban perkosaan tentu bukan keinginannya. Tetapi, dia justru menerima hukuman dari sekolah yaitu dikeluarkan.

Kejadiannya bermula pada tahun lalu. Ketika itu, dua kakek tiri korban memperkosanya selama kurun Mei hingga Desember 2012. Kedua kakek tiri korban sudah divonis masing-masing 8 tahun penjara. Hukuman itu hanya separuh dari tuntutan jaksa yaitu 15 tahun penjara.

Siswi SMP Purworejo itu bukan korban perkosaan pertama yang dikeluarkan dari sekolah. Seorang remaja putri di Surabaya juga dikeluarkan dari sekolah pada Agustus lalu setelah menjadi korban perkosaan. Sejumlah sekolah yang mengeluarkan siswi korban perkosaan membantah pemberitaan tersebut. Mereka mengatakan, siswi tersebut mengundurkan diri dan bukan dikeluarkan.

Terlepas dari alasan pihak sekolah, satu hal yang pasti, siswi tersebut adalah korban perkosaan dan masih di bawah umur. Sekolah tidak punya wewenang untuk menghilangkan hak bersekolah siswi korban pemerkosaan. Menuntut ilmu di sekolah dan menjadi korban pemerkosaan adalah dua hal yang berbeda.

Hak atas pendidikan tidak boleh luput dari anak-anak termasuk korban tindak kekerasan seksual. Karena itu, sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan pendidikan seharusnya tidak menjadikan siswi korban perkosaan sebagai aib sehingga harus dikeluarkan. Pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus turun tangan untuk menuntaskan kasus ini. Kepala sekolah tidak bisa seenaknya mengeluarkan siswi korban pemerkosaan.

Harus ada sanksi kepada sekolah yang kedapatan mengeluarkan siswi korban kekerasan seksual. Tanpa sanksi, peristiwa seperti ini akan terus berulang. Sekolah seharusnya memberikan proteksi,, memberikan bimbingan psikologi agar siswi korban kekerasan seksual tidak trauma. Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi korban kekerasan seksual untuk mendapatkan arahan.

Peran guru dan juga siswa sekolah lainnya juga tidak kalah penting untuk kembali menghadirkan kegembiraan kepada anak korban kekerasan seksual sehingga dia bisa melupakan musibah itu. UU No. 23 Tahun 2002 menjelaskan, anak sebagai korban mendapatkan rehabilitasi baik dalam lembaga maupun luar lembaga, perlindungan identitas di media massa untuk menghindari labelisasi, pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli baik fisik, mental, maupun sosial. Dan terakhir, jaminan akses untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara.

Yang harus diberikan kepada anak korban kekerasan seksual adalah dukungan agar yang bersangkutan bisa melupakan musibah itu. Dukungan bukan hanya dari orang tua dan teman korban tetapi juga dari institusi sekolah. Karena itu, sekolah jangan menghukum anak korban

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8