Olahraga dan Bancakan Korupsi

Hanya dalam hitungan hari pesta olahraga Islamic Solidarity Games resmi dibuka di Palembang, Sumatera Selatan. Pesta pembukaan ajang olahraga yang diikuti oleh 44 negara Islam itu akan digelar pada 22 September mendatang.

EDITORIAL

Kamis, 19 Sep 2013 09:07 WIB

Author

KBR68H

Olahraga dan Bancakan Korupsi

olahraga, korupsi, Islamic Solidarity Games, olimpiade

Hanya dalam hitungan hari pesta olahraga Islamic Solidarity Games resmi dibuka di Palembang, Sumatera Selatan. Pesta pembukaan ajang olahraga yang  diikuti oleh 44 negara Islam itu akan digelar pada 22 September mendatang. 

Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah ISG 2013 sebenarnya sudah diteken 28 April 2011 lalu di Jeddah. Saat itu, Riau ditunjuk sebagai tuan rumah ajang olahraga negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam itu.  Riau dipilih karena infrastruktur olahraga lebih siap, setelah dipakai  untuk  PON 2012.

Namun, terseretnya Gubernur Riau, Rusli Zaenal dalam kasus korupsi PON telah mengubah peta. Pada akhirnya, pemerintah memindahkan ISG dari Pekanbaru ke Palembang.  Akibat korupsi PON itu pula,  persiapan ISG menjadi kacau.

Seharusnya dengan panjangnya waktu persiapan, tak alasan adanya persoalan yang tercecer di sana sini.  Apalagi nama baik bangsa dipertaruhkan. Betapa malunya kita kepada tamu-tamu dari negara lain, karena masih terjadi karut marut  akibat persiapan yang minim.  Persoalan dana yang tak kunjung cair ini juga sempat memusingkan panitia ISG. Bagaimana tidak, beberapa cabang olahraga yang sudah dipertandingkan, digelar tanpa adanya kucuran dana.  

Meskipun kesepakatan tentang dana untuk perhelatan tersebut sudah diteken Selasa lalu,  namun muncul persoalan baru terkait pengadaan sarana dan prasarana. Waktu yang mepet tak memungkinkan lagi proses tender digelar, sehingga pilihannya kini adalah penunjukan langsung sejumlah proyek.

Ketua Komite Olimpiade Indonesia Rita Subowo  berupaya mencari payung hukum  agar di kemudian hari tak ada masalah terkait penunjukan langsung. Kekhawatiran Rita Subowo sebenarnya tidak perlu terjadi asalkan proses itu dikawal dengan benar.  Apalagi tim monitoring yang terdiri dari kejaksaan, LKKP, kepolisian sudah siap mengawasi prosedur pengadaan barang dan jasa.

Seharusnya diawasi atau tidak, asalkan semua dilakukan dengan benar sesuai aturan, tak perlu muncul ketakutan akan dipenjara. Bangsa ini harus mau belajar. Cukup sudah dunia olahraga diguncang korupsi PON dan korupsi wisma atlet. Banyaknya pejabat yang diseret ke  penjara akibat korupsi, seharusnya membuat kapok. Jangan sampai ajang olahraga yang menjunjung sportivitas justru dimanfaatkan untuk melanggengkan budaya korupsi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Penyangkal Iklim dan Bencana Alam

Pesantren Khusus Disabilitas di Banyuwangi

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12