Ryan Memutuskan Mati

Negara wajib melindungi tiap-tiap nyawa warganya. Hak hidup yang diakui dan dilindungi warga dan negara sedunia tak boleh dicabut atas alasan apapun, kendati masih ada negara termasuk Indonesia yang masih menerapkan hukuman mati.

EDITORIAL

Jumat, 08 Agus 2014 09:34 WIB

Author

KBR

Ryan Memutuskan Mati

ryan tumewa, euthanasia, mercy killing, mahkamah konstitusi

Negara wajib melindungi tiap-tiap nyawa warganya. Hak hidup yang diakui dan dilindungi warga dan negara sedunia tak boleh dicabut atas alasan apapun, kendati masih ada negara termasuk Indonesia yang masih menerapkan hukuman mati. Dalam soal perlindungan ini, negara bahkan wajib mencegah direnggutnya nyawa manusia bahkan oleh yang bersangkutan.

Undang-undang Pidana Indonesia melarang tiap-tiap orang menghilangkan nyawanya sendiri. Artinya, bunuh diri itu dilarang, dan diancam dengan pidana penjara. Menghilangkan nyawa orang bahkan atas permintaan orang itu sendiri, juga dilarang undang-undang. Pasal mengenai larangan euthanasia dan bunuh diri inilah yang digugat oleh seorang warga Indonesia. Ia, Ignatius Ryan Tumewa, baru dua tahun melewati usia 40, merasa tak perlu lagi berlama hidup di dunia. Alasannya, ia tak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan tak mau bergantung pada orang lain.

Ryan tak punya pekerjaan tetap, meski sekolahnya cukup tinggi. Ketimbang jadi benalu bagi lingkungan, Ryan memutuskan untuk mati dan meminta Mahkamah Konstitusi memberi izin dengan cara menghapus pasal larangan di Undang-undang Pidana. Saudara, ini Ryan Tumewu, orang Indonesia dan kasusnya di Mahkamah Konstitusi Indonesia. Ini bukan kasus dari Slovenia tentang Veronica yang memutuskan mati seperti ditulis dalam novel Paulo Coelho. Veronica menjemput ajal dengan menenggak empat bungkus pil tidur.

Kita memahami beban yang dialami Ryan dan menghormati keinginannya untuk tidak menjadi beban bagi orang lain. Kepada sikap seperti inilah kita wajib kagum dan memberi ucapan: salute.

Tapi bisakah kita ikhlas membiarkan Ryan mengakhiri nyawanya? Ada kisah-kisah klasik tentang jiwa bushido bangsa Jepang. Mengakhiri nyawa demi menjaga kehormatan. Bisakah kita menerima bila hakim-hakim Mahkamah Konstitusi menganggap bahwa nyawa adalah milik tiap orang dan biarkan tiap orang itu menentukannya sendiri?

Rasanya tidak. Kita masih terbelah sikap mengenai euthanasia atau mercy killing terhadap pasien dengan penyakit maha gawat. Pada kasus Ryan ini, kita berharap: biarkan Ryan tetap hidup. Seperti juga kelahiran, kematian jangan jadi pilihan bebas.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Tingginya Kasus Positif COVID-19 pada Anak

Cegah Krisis Pangan di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 8

Covid-19, IDAI Ungkap Kematian Anak Capai Ribuan Perminggu