Krisis Pangan Negeri Agraris

Menghadapi situasi ini, pemerintah belum beranjak pada ide baru kecuali impor. Berapa banyak yang akan diimpor, belum disebut. Dalihnya, mesti tahu lebih dulu ketersediaan dan kebutuhan.

EDITORIAL

Selasa, 26 Agus 2014 09:33 WIB

Author

KBR

Krisis Pangan Negeri Agraris

petani, agraris, beras, padi, bulog

Pemerintah Aceh melarang petani menjual berasnya ke Sumatera Utara. Alasannya, kemarau panjang panjang membuat Aceh sendiri bakal kekuragan beras. Gagal panen terjadi di mana-mana.

Pemda mencatat sudah lebih dari sejuta ton padi milik petani dijual ke provinsi tetangga. Jika itu dibiarkan, masyarakat Aceh akhirnya akan membeli kembali beras itu dengan harga lebih mahal. Tapi, apakah petani bisa dilarang begitu saja? Apalagi disalahkan semaunya?

Aksi jual untung petani itu bukan berita baru. Juga bukan monopoli petani Aceh, karena terjadi juga di banyak daerah. Dasarnya sederhana saja. Kalau mendapat kesempatan menjual kepada pembeli yang berani bayar lebih mahal, kenapa tidak? Lagipula, cara pembeli menawar padi sederhana saja. Tak seperti BULOG yang membeli beras petani dengan banyak syarat. Penting dicatat juga kalau selama bercocok tanam, petani sering merugi karena pupuk langka, karena hama dan karena banyak kendala lain.

Andai lembaga pemerintah yang bernama Badan Urusan Logistik bisa menyerap padi petani dengan mudah, dengan harga yang menguntungkan, mestinya petani tidak akan berulah demikian. Aceh justru membuktikan kalau kebijakan pangan kita masih belum beres. Ketahanan pangan kita masih rentan menghadapi kemarau, bencana dan hama. Buruknya sistem distribusi sering  memperburuk keadaan. Namun antisipasi menghadapi itu semua, nyaris tak ada. Makanya, pemerintah lebih sering menjawab krisis itu dengan impor.

Kini, Pemerintah telah menyalakan lampu kuning isyarat bakal kekurangan beras tahun ini. Kemungkinan, produksi petani nasional tahun ini berkurang sekitar 1,4 juta ton. Biang keladinya kemarau panjang Mei – September, yang terjadi merata di seluruh negeri. Menghadapi situasi ini, pemerintah belum beranjak pada ide baru kecuali impor. Berapa banyak yang akan diimpor, belum disebut. Dalihnya, mesti tahu lebih dulu ketersediaan dan kebutuhan. (Baca: Stok Beras Aman Hingga Akhir Tahun)

Kita berharap betul, pemerintahan baru nanti tak kembali jalan di tempat, tapi bisa melangkah jauh ke depan. Situasi sekarang agak sulit dicerna akal. Masa iya, Indonesia yang dicatat sebagai produsen beras terbesar ketiga dunia, impor beras terus?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Melimpah Limbah Medis

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11