Krisis Kehumasan

Siapa pun tak mungkin lepas dari kritik. Kalau semua kritik dianggap menyerang, serta dibawa ke ranah hukum, tak bakal ada yang berani bicara terbuka atas apa pun.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 19 Jul 2019 00:44 WIB

Author

KBR

Krisis Kehumasan Garuda Indonesia

Ilustrasi: Krisis Kehumasan Garuda Indonesia

Jalur kekeluargaanlah yang akhirnya mempertemukan Garuda Indonesia  dengan vlogger Rius Vernandes. Sebelumnya Serikat Karyawan Garuda Indonesia melaporkan Rius ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Kali ini, Garuda lah yang menghampiri Rius dan membuka jalur kekeluargaan.

Ini bermula dari review perjalanan yang dilakukan Rius lewat video ketika terbang bersama Garuda. Menu yang dibagikan pramugari ada di lembaran kertas, dengan tulisan tangan. ‘Masih di percetakan,’ begitu penjelasan pramugari. Review Rius di penerbangan ini serupa saja dengan review-review yang sebelumnya terhadap maskapai penerbangan lain. Rius kaget begitu mendapat panggilan dari polisi, warganet pun beramai-ramai berkomentar akan respons yang muncul.

Satu dasawarsa lalu, maskapai Virgin Airlines asal Inggris bertemu kasus serupa ketika ada penumpang yang mengeluhkan menu, lantas surat tersebut viral. Pemilik maskapai langsung menelfon si penumpang dan minta maaf atas kekecewaan penumpang. Krisis selesai - penumpang senang, maskapai pun tenang. Di dalam negeri, harian Kompas juga menangani krisis salah cetak ‘lorem ipsum’ dengan santai. Kasus Rius ini jadi pelajaran betul bagi perusahaan, termasuk BUMN pelat merah sekelas Garuda Indonesia, ketika menghadapi krisis kehumasan.

Siapa pun tak mungkin lepas dari kritik. Kalau semua kritik dianggap menyerang, serta dibawa ke ranah hukum, tak bakal ada yang berani bicara terbuka atas apa pun. Dan tentu ini buruk bagi kebebasan berekspresi di negeri ini. Harus ada strategi-strategi lain yang dilakukan ketika terjadi krisis kehumasan, tanpa sedikit-sedikit memberangus dengan jerat hukum. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17