Para Pengawal

Pernahkah kita berada dalam semangat heroisme, serba waspada, haru dan berpuasa sekaligus? Sekarang kita sedang dalam kombinasi empat keadaan itu. Barangkali Agustus 1945, terutama di Jakarta, suasana batin serupa ini.

EDITORIAL

Jumat, 18 Jul 2014 09:19 WIB

Author

KBR

Para Pengawal

politikus, orde baru, Komisi Pemilihan Umum

Pernahkah kita berada dalam semangat heroisme, serba waspada, haru dan berpuasa sekaligus? Sekarang kita sedang dalam kombinasi empat keadaan itu. Barangkali Agustus 1945, terutama di Jakarta, suasana batin serupa ini.

Setahun lalu, kebanyakan orang Indonesia nyaris frustrasi. Politik, yang menjadi ucap serta laku pada hari-hari Agustus 1945 dan sesudahnya, telah mengundang kebencian. Orang Indonesia nyaris berada pada titik buntu harapan. Bila ada penentuan pendapat umum digelar dengan satu pertanyaan, siapa warga yang paling pantas dicemplungkan ke laut?, mayoritas akan menjawab seragam: politisi.

Sebab, politisi atau secara sendiri-sendiri bernama politikus telah tanpa sungkan mempertontonkan ratusan babak dalam drama kotor mereka. Mencuri anggaran, mengemplang pajak, mempermainkan hukum, lain kata lain perbuatan, atau pendek kata: mereka maling dari punyanya rakyat.

Kekuasaan pasca Orde Baru yang dibasuh oleh darah anak-anak muda, diubah menjadi oligarki. Politik yang dikenal sebagai cara untuk memajukan kesejahteraan umum, berubah menjadi kosa kata memuakkan dan mengundang apatisme.

Lalu bila dalam beberapa bulan terakhir kita terlibat dalam semangat yang tak terbayangkan, apa sesungguhnya terjadi? Apa atau siapa yang jadi penggerak berbagai perbuatan yang juga sebelumnya tak terbayangkan itu?

Tak pernah ada kampanye dan kontes calon pemimpin di negeri ini dengan kemeriahan, ketegangan, gegap suka rela, sekaligus kegembiraan seperti yang sedang kita lakoni sekarang. Banyak orang tidur di kelurahan untuk menjaga kotak-kotak suara, mengawasi penghitungan dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, lalu nanti provinsi hingga ke Komisi Pemilihan Umum di Jakarta. Tak ada yang membayar. Tak ada yang memaksa.

Apa kita bisa jawab sederhana bahwa pendorongnya adalah Joko Widodo dan Prabowo Subianto? Bila keduanya kita hadapkan sebagai kontradiksi, barangkali benar. Efek Jokowi harus diakui menerbitkan semangat, menjadi pendorong dan inspirasi bagi lahirnya kepercayaan baru terhadap politik.

Hari ini kita takjub. Kepada kita, sekaligus mereka, yang mengawal demokrasi dalam pengertian sebenar-benarnya. Kemenangan ini, percayalah, milik para pengawal itu. Selamat, Bung. Selamat, Nona. Terima hormat kami.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18