Masih Takut Hantu Juga

Karl Marx benar adanya. Ia sengaja menggunakan kata "hantu" pada kalimat pertama pengantar Manifesto Komunis. Ia seperti tahu bahwa komunisme bisa menjadi memedi abadi. "Hantu menggentayang Eropa",begitu tulisnya.

EDITORIAL

Jumat, 04 Jul 2014 08:27 WIB

Author

KBR

Masih Takut Hantu Juga

komunis, pkt, orde baru, pdi perjuangan, abu rizal

Karl Marx benar adanya. Ia sengaja menggunakan kata "hantu" pada kalimat pertama pengantar Manifesto Komunis. Ia seperti tahu bahwa komunisme bisa menjadi memedi abadi. "Hantu menggentayang Eropa",begitu tulisnya.

Hantu itu dibangunkan oleh mantra politik pada hari-hari pendek mendekati pemilihan presiden ini. Sayangnya, dukun pembangkit dari kubur itu sebuah televisi nasional. Sebuah media massa, saudara-saudara, yang dalam bekerja sepatutnya menaati aturan etika yang sangat ketat agar berita yang dikeluarkan kredibel dan dipercaya. Media tersebut menyebut Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan merupakan partai yang membina hubungan erat dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Sebetulnya banyak partai membina hubungan dengan PKT. Partai Golkar di bawah pimpinan Aburizal Bakrie, sudah dua tahun lebih belajar soal kaderisasi dan pembinaan organisasi dari PKT. Tapi berita televisi nasional ini agaknya sengaja segendang sepenarian dengan tabloid dan majalah gelap yang beredar. Media-media yang muncul masa pemilihan presiden ini menyebut Joko Widodo, calon presiden yang diusung salah satunya oleh PDI-Perjuangan, adalah kader komunis.

Ide Jokowi mengenai revolusi mental juga pernah diserang oleh Fadli Zon, pendukung Prabowo, secara sembrono sebagai ide dari Karl Marx bapak komunisme yang memunculkan kata "hantu" tadi Disebut sembrono karena Marx mengajarkan revolusi sosial yang berbeda. Istilah revolusi mental justru pertama kali muncul dari seorang insinyur Amerika di pertengahan abad 19 demi efisiensi industri. Namanya Frederick Winslow Taylor.

Tapi, komunisme dan Partai Komunis Indonesia telanjur dihadirkan berbeda. Ia yang pernah membangkitkan perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia, lalu disejajarkan dengan kekejian dan pengkhianatan oleh Orde Baru. Sejak itu, wajah gelap dan seram PKI lebih dikenal ketimbang posisi sejatinya dalam sejarah Indonesia.

Sepatutnya kita berhenti membangunkan hantu-hantu. Ghalibnya manusia makin dewasa biasanya makin tak percaya pada hantu. Meski masih memiliki kebodohan ketika tetap menciptakan hantu-hantu untuk menakut-nakuti anak kecil. Apa kita ingin terus menerus berada di masa kecil? Tak dewasa sebagai bangsa.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Polisi Sebut Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Beraksi Sendiri