Ikhtiar Pemerataan

Dengan pemerataan, semua sekolah memiliki kualitas dan daya tarik yang sama, tanpa perlu label favorit. Sehingga tidak ada lagi kecemburuan orang tua siswa dalam mengakses dunia pendidikan.

OPINI , EDITORIAL

Kamis, 20 Jun 2019 00:31 WIB

Author

KBR

Demo menolak kebijakan zonasi PPDB

Warga berunjuk rasa memprotes kebijakan zonasi sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). (Foto: Antara/Didik Suhartono).

Hampir saban tahun ada saja persoalan yang timbul saat dimulainya Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) . Kemarin sore Dinas Pendidikan Jawa Timur menutup sementara PPDB SMA. Langkah ini diambil Plt Kepala Dinas Pendidikan, Hudiyono, usai menerima perwakilan orangtua dan wali murid.  

Ratusan orangtua kemarin siang berunjuk rasa menuntut sistem zonasi dihapus. Pemerintah juga diminta memberikan solusi atas sistem zonasi dalam PPDB tahun ini supaya anak-anak mereka bisa sekolah di sekolah yang diinginkan.

Penerapan sistem zonasi punya niat mulia untuk meratakan penerimaan siswa baru. Ketika pemerataan sekolah berupaya menghapuskan sekolah favorit, problem tidak seimbangnya masalah daya tampung dan calon siswa belum bisa diatasi.

Akibatnya upaya memberi ruang yang sama agar sekolah negeri dapat dinikmati oleh siswa yang bertempat tinggal di lingkungan sekitar sekolah, justru dinilai menyebabkan ketidakadilan bagi siswa berprestasi.

Ikhtiar pemerataan pendidikan baik adanya. Dengan pemerataan, semua sekolah memiliki kualitas dan daya tarik yang sama, tanpa perlu label favorit.  Sehingga tidak ada lagi kecemburuan orang tua siswa dalam mengakses dunia pendidikan. Untuk itu, kendala-kendala penerapan sistem ini mesti direspon segera. 

Persoalan daya tampung sekolah mesti segera dibenahi, seiring peningkatan kualitas para pendidik dan sarana serta prasarana sekolah.  Jika tidak, maksud baik pemerintah bakal terus menuai tanya: maksud baik untuk siapa? 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

News Beat

Kabar Baru Jam 7