Untung-Rugi ada TNI

Kita bukan sedang membuat dikotomi lanjutan sipil versus militer. Tapi, sesungguhnya keterlibatan purnawirawan dalam dukung mendukung calon presiden ini tak menyenangkan.

EDITORIAL

Kamis, 19 Jun 2014 17:35 WIB

Author

KBR

Untung-Rugi ada TNI

tni, purnawirawan, orde baru, ham, militer

Apa faedah dari bergabungnya sejumlah purnawirawan TNI dan Polri ke kubu calon presiden?

Joko Widodo didukung sekitar 170 purnawirawan perwira. Sekitar 35 di antaranya berpangkat jenderal. Prabowo Subianto mengklaim angka yang jauh lebih besar. Yakni 80an jenderal, 300 perwira menengah dan 400 prajurit. Tentara-tentara yang memiliki masalah di masa lalu, tersebar di kedua kubu.

Prabowo dikelilingi oleh purnawirawan yang memiliki catatan sebagai master of terror di berbagai peristiwa pelanggaran hak azasi manusia. Dari mulai Timor Leste, Aceh, Papua, hingga kasus penghilangan paksa aktivis prodemokrasi. Kasus yang juga melibatkan Prabowo. Joko Widodo tak kurang juga. Ada sejumlah jenderal bermasalah, seperti Wiranto, AM Hendropriyono, Sutiyoso, Ryamizard Ryacudu, dan nama yang dikaitkan dengan pembunuhan aktivis HAM, Munir, yaitu Muchdi Purwopranjono.

Kita bukan sedang membuat dikotomi lanjutan sipil versus militer. Tapi, sesungguhnya keterlibatan purnawirawan dalam dukung mendukung calon presiden ini tak menyenangkan. Benar bahwa mereka bukanlah tentara aktif yang memiliki komando langsung kepada pasukannya, sehingga tak bisa digerakkan untuk menggalang atau memaksa dukungan seperti terjadi pada masa Orde Baru.

Tapi semangat menarik-narik keterlibatan tentara, aktif atau tidak aktif, ke dalam proses kontes demokrasi dapat dibaca juga sebagai tidak percaya dirinya sipil mengatur dirinya. Padahal supremasi sipil adalah prasyarat mutlak demi berlangsungnya terus pemerintahan demokratis. Apalagi masalah-masalah yang melingkupi purnawirawan di kedua kubu itu hanya akan memberatkan pemerintahan mereka kelak terutama dalam agenda pengungkapan kejahatan terhadap hak azasi manusia di masa lampau. Salah satu soal yang juga membuat berat pemerintah Yudhoyono dalam isu HAM.

Kita pun curiga apa yang sesungguhnya terjadi di antara bekas serdadu itu. Kini mereka menyerang sesama militer di kubu lawan. Lalu dianggap pahlawan bagi kubunya. Bila ada yang bisa dipetik manfaatnya adalah bahwa mereka itu membuka berbagai tabir rahasia masa lalu. Beberapa kebenaran terungkap.

Tapi sipil harus tetap awas. Ini bukan perang bintang. Ini kontes demokrasi kaum sipil.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17