Pantau Capres, Matikan Televisi Anda!

Bila Anda ingin mencari informasi yang jernih soal calon presiden dan calon wakil presiden jangan di televisi, matikan saja media itu!

EDITORIAL

Kamis, 19 Jun 2014 17:33 WIB

Author

KBR

Pantau Capres, Matikan Televisi Anda!

capres, televisi, metro tv, tv one

Bila Anda ingin mencari informasi yang jernih soal calon presiden dan calon wakil presiden jangan di televisi, matikan saja media itu! Salah-salah Anda malah bingung karena informasinya tendensius dan tak berimbang. Bukan kebenaran yang Anda peroleh, namun hanya kampanye hitam dan fitnah belaka.

Tak percaya? Coba saja Anda setel TV One dan Metro TV. Kedua televisi ini dengan gamblang mendukung salah satu capres; TV One mendukung Prabowo dan Metro TV menyokong Joko Widodo.

Lihat saja tayangan TV One yang berupaya menutupi "kekalahan" Prabowo dalam Debat Capres kedua, 15 Juni lalu. Belum lagi bicara grup MNC yang pemiliknya, Harry Tanoe, bergabung dengan Prabowo-Hatta.

Dalam satu program acaranya TV One mati-matian membela Prabowo yang buta soal Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Sementara, Metro TV merasakan euforia kemenangan dengan memuji Jokowi yang menyuarakan akronim TPID. Masih segudang contoh bisa Anda dapatkan jika membandingkan kedua televisi nasional ini.

Jelang Pilpres 9 Juli yang tinggal 20 hari lagi ini, perang di kedua televisi ini pun memanas. Bukan esensi seperti menguliti visi misi capres kedua capres yang disiarkan, namun menguak hal remeh temeh.

Soal tendensi media di Pilpres 2014 ini, sempat disinggung Presiden Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) awal Juni lalu. SBY kembali menegaskan, media massa adalah milik publik dan untuk kepentingan publik, bukan hanya pemilik modal.

Namun apa lacur, kepentingan pemilik televisi ini sudah terlanjur masuk ke ruang redaksi. Pemilik TV One yakni Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie mendukung Prabowo, sementara Pemilik Metro TV, Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh adalah penyokong Joko Widodo.

Perang media ini membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Senin lalu (16/6) memanggil pemimpin redaksi kedua televisi itu. KPI meminta kedua media menjaga independensi dan netralitas dalam penyiaran Pilpres 2014. Keduanya pun sepakat untuk menjaga netralitas siaran dan menaati kode etik jurnalistik.

Tapi apakah komitmen itu tampak dalam program siaran mereka, Anda bisa menilainya sendiri. Karena itu kalau Anda ingin mendapat informasi yang lebih jernih, matikan televisi dan cari referensi dari media lain yang lebih kredibel.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17