Ramadan

Soal ini, salah satu yang 'Indonesia banget' adalah memasang tirai yang menutupi setengah jendela di rumah makan. Tapi sejumlah daerah merasa tirai itu tak cukup.

OPINI | EDITORIAL

Senin, 06 Mei 2019 08:53 WIB

Author

KBR

Ilustrasi

Ilustrasi

Bulan suci untuk umat Muslim kembali tiba. Saatnya menahan lapar dan haus selama sebulan penuh. Soal ini, salah satu yang 'Indonesia banget' adalah memasang tirai yang menutupi setengah jendela di rumah makan. Tapi sejumlah daerah merasa tirai itu tak cukup. 

Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, merasa perlu untuk melarang rumah makan buka di siang hari. Kata Bupati Lebak, ini supaya masyarakat bisa konsentrasi berpuasa. Kalau berani buka, siap-siap saja kena razia. Atau di Malang, yang Pemkotnya baru mengeluarkan aturan supaya warga non Muslim tidak makan minum secara demonstratif. 

Menarik sekali melihat bagaimana Pemerintah yang begitu kalang kabut mengatur supaya puasa warganya berjalan dengan baik dan benar. Padahal puasa itu urusan pribadi, vertikal ke Sang Pencipta. Sementara tugas Pemerintah adalah untuk semua umat, tak hanya Muslim yang berpuasa. Aturan “ajaib” macam ini pun bukannya baru sekarang ini muncul. Dan ini menunjukkan adanya kemandekan berpikir yang luar biasa. 

Apakah semua orang adalah Muslim yang berpuasa? Apakah hanya ada umat Islam di daerah tersebut? Apakah semua rumah makan ditujukan bagi orang Muslim? Gampang saja. Jawabannya “tidak” untuk ketiga pertanyaan tersebut. Artinya, aturan itu sungguh tak penting untuk dibuat. Kalau mau menantang diri sendiri, justru tempat makan yang buka itu jadi tempat mendulang pahala bagi umat Muslim yang berpuasa. Karena inti dari berpuasa adalah menahan diri — jauh lebih tinggi kastanya ketimbang sekadar menahan lapar dan haus. 

Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya. Semoga di ujung bulan Ramadan ini, kita tak bertemu lagi perdebatan soal boleh atau tidaknya umat Islam menerima ucapan selamat Lebaran dari umat agama lain. Karena itu tentu boleh.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pegawai KPK Berstatus ASN, Independensi KPK Terancam