Aksi Melawan Lupa Tragedi Mei 98

Kemarin, ribuan mahasiswa Universitas Trisakti berunjuk rasa menuntut Presiden SBY menuntaskan tragedi 12 Mei 1998. Mereka ingin penembak empat mahasiswa Trisakti saat itu, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie ditangkap.

EDITORIAL

Selasa, 13 Mei 2014 10:15 WIB

Author

KBR68H

Aksi Melawan Lupa Tragedi Mei 98

mei 98, tragedi mei, grogol, reformasi, trisakti

Kemarin, ribuan mahasiswa Universitas Trisakti berunjuk rasa menuntut Presiden SBY menuntaskan tragedi 12 Mei 1998. Mereka ingin penembak empat mahasiswa Trisakti saat itu, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie ditangkap. Unjuk rasa itu menandai genap 16 tahun masyarakat Indonesia pro reformasi mendorong penuntasan kasus tersebut. Tanpa lelah, suara-suara mereka, para orang tua korban dan aktivis pro demokrasi terus mengumandang menagih. Semua itu demi "melawan lupa"? negara terhadap sejarah bangsanya.

Institusi negara pembela korban kekerasan penguasa Komnas HAM kembali mendesak Kejaksaan Agung segera membuat terang benderang peristiwa Trisakti itu. Tak ada alasan lagi untuk menunda karena saksi dan bukti sudah lama mereka kantongi. Jika memang masih kurang, jelaskan dan mintalah tambahan bukti dan saksi kepada Komnas, bukan mendiamkan tanpa alasan. Tak ada untungnya membela kepentingan politik yang menghambat penegakan hukum terhadap para pelakunya.

Berlarut-larutnya situasi ini, hanya akan membuat peristwa itu menjadi komoditi kelompok tertentu yang berkeinginan memanfaatkannya. Beberapa hari terakhir kita mendengar dan melihat dua berita dengan subjek peristiwa yang sama, Universitas Trisakti lengkap dengan mahasiswa dan para alumninya. Satu berita mengabarkan alumni universitas mendeklarasikan pencapresan Prabowo Subianto. Berita lainnya, gempita mahasiswa Trisakti di Bundaran HI meminta penuntasan Tragedi Mei 98. Dua kabar itu mengesankan mahasiswa dan para alumni Trisakti sudah tidak solid lagi. Benarkah begitu?

Proses hukum yang tidak gamblang memang membuka ruang orang untuk beropini atau memberi analisa yang keliru. Makanya tidak aneh juga ketika kemudian ada yang merasa heran dengan dukungan alumni Trisakti terhadap pencapresan Prabowo Subianto. Di sisi lain, pengakuan bekas Pangkostrad saat kemelut itu terjadi, belum bisa memuaskan semua pihak, terutama keluarga korban penembakan. Alasannya, secara struktural, yang bersangkutan semestinya menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab terhadap situasi keamanan saat itu.

Tapi, apapun yang sesungguhnya terjadi ketika itu, penuntasan titik kelam sejarah negeri saat itu mesti segera kelar  agar tidak dimanfaatkan oleh kepentingan politik kelompok tertentu. Politisasi tragedi Mei sama sekali tidak berguna bagi kemajuan bangsa. Peristiwa 12 Mei punya arti yang begitu penting karena menandai tumbangnya rezim otoriter menuju kehidupan bernegara yang lebih demokratis.

Kemarin lusa, salah seorang alumni Universitas Trisakti yang kini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meresmikan nama baru nama terminal dan halte Transjakarta Grogol menjadi "Grogol 12 Mei Reformasi".? Pemberian nama baru terminal yang berada di seberang jalan Kampus Trisakti itu merupakan salah satu cara  "melawan lupa"? dengan terus mengingatkan masyarakat pada peristiwa yang melahirkan rezim baru di negeri ini.

Jangan pernah lupakan itu.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme