Hoaks

KPU meminta video fitnah itu diselidiki, dan orangnya dihukum. KPU membantah telah melakukan hal yang ditudingkan dalam video itu.

OPINI , EDITORIAL

Jumat, 05 Apr 2019 00:52 WIB

Author

KBR

Ketua KPU Arief Budiman laporkan video hoaks

Ketua KPU Arief Budiman melaporkan kasus video hoaks ke Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (4/4/2019). (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Sebuah video viral di media sosial. Video yang sudah dibagikan ribuan kali oleh warganet itu memperlihatkan seseorang bicara dalam sebuah pertemuan. 

Salah satu yang dibicarakan adalah soal KPU. Pria yang belum diketahui identitasnya itu menyatakan, KPU  sudah mengatur agar pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma'ruf Amin menang 75 persen pada Pemilu 2019.

Tidak jelas pertemuan apa yang sedang berlangsung, pun keterangan soal kapan video itu diambil. Buntutnya, Kamis malam tadi KPU melaporkan video tersebut ke Bareskrim Polri. KPU meminta video fitnah itu diselidiki, dan orangnya dihukum. KPU membantah telah melakukan hal yang ditudingkan dalam video itu. 

Tudingan praktik curang yang dialamatkan ke KPU bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya ada isu DPT ganda yang angkanya sangat fantastis sampai 25 juta pemilih. Lalu ada kabar orang gila untuk masuk DPT, kotak suara kardus, surat suara tercoblos di Sumatera Utara, isu e-KTP bagi warga asing untuk pemilu, sampai berita bohong tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos untuk mendukung pasangan nomor urut 01.

Sungguh, kita berharap deraan hoaks yang bisa mendelegitimasi itu tidak menguras energi KPU. Sebaliknya, justru memantapkan kinerja KPU sebagai penyelenggara pemilu  yang independen, mandiri dan professional. 

Yang bisa kita lakukan dalam situasi seperti ini adalah menjaga kewarasan. Sebagai pemilih dan pemilik akun media sosial, kita punya kekuatan mencegah bergulirnya berita bohong , hasut dan fitnah. Lewat ujung jari kita ini, kita turut menentukan wajah demokrasi seperti apa yang ingin kita wujudkan.  Maka, bijaklah dan tetap waras ketika menerima berita, sebelum ikut menyebarluaskan. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

TNI Disusupi Radikalisme

News Beat

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20