covid-19

Susahnya Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

Akhir pekan lalu, mereka yang ingin mudik lebaran menggunakan kereta api di Stasiun Senen spontan berunjuk rasa karena kesal tak kebagian tiket. Sebagian mengaku sudah datang ke stasiun sejak dini hari.

EDITORIAL

Rabu, 30 Apr 2014 09:48 WIB

Author

KBR68H

Susahnya Berburu Tiket Kereta Mudik Lebaran

tiket, kereta api, lebaran, pt kai, online

Akhir pekan lalu, mereka yang ingin mudik lebaran menggunakan kereta api di Stasiun Senen spontan berunjuk rasa karena kesal tak kebagian tiket. Sebagian mengaku sudah datang ke stasiun sejak dini hari. Tapi begitu jam operasional buka, tiket keberangkatan H-3 dan H-2 untuk semua kelas tujuan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur ternyata sudah habis.

Saat berunjuk rasa, beberapa di antaranya mengangkat poster kertas bertuliskan “PT KAI Penipu”. Benarkah PT KAI menipu? Jawabannya bisa apa saja tergantung dari pengetahuan dan pemahaman kita masing-masing tentang sistem penjualan tiket  PT KAI. Mereka yang sudah jauh hari menjadwalkan datang ke Stasiun Senen untuk membeli tiket itu, ketika tiba harinya dan ternyata gagal, wajar kecewa. Dan bisa dimaklumi jika kemudian menuduh PT KAI Menipu. Sumbernya bisa karena masih lekatnya ingatan merajalelanya calo di masa lalu dan ketidaktahuan sistem online yang sudah dijalani PT KAI beberapa tahun terakhir.

Bagi yang sudah paham dengan pemesanan tiket online PT KAI, agak sulit menemukan logika jika ludesnya tiket itu semata karena ada kecurangan. Teknologi online dan sistem jaringan penjualan dengan melibatkan pihak luar secara meluas, memungkinkan puluhan ribu tiket terdistribusi dalam hitungan menit. Puluhan ribu calon pemudik tak perlu lagi beranjak dari kursi untuk mendapatkannya, apalagi sampai harus menginap, berdesakan dan belum tentu dapat. Tapi, apakah mereka yang bisa merasakan kemudahan mendapatkan tiket mudik kereta itu mayoitas?

Sepertinya belum, meski sistem penjualan online sudah mulai dipraktekkan PT KAI sejak empat tahun silam. Peminat kereta api cenderung lebih banyak dari waktu ke waktu karena pertimbangan lebih tepat waktu sampai ke tujuan dan pelayanan serta fasilitas yang terus diperbaiki. Sementara moda lain belum juga menjanjikan hal yang lebih baik. Masalahnya, sebagian besar dari mereka ini sepertinya belum memanfaatkan layanan online itu. Semoga bukan karena gagap teknologi. Jika iya, mau tak mau harus menyesuaikan perkembangan jika tidak mau kembali gagal mudik dengan kereta tahun depan. Apalagi PT KAI sudah mengumumkan mulai Agustus tahun ini, PT KAI hanya akan menjual tiket jarak jauh secara online. Salah satu niat perusahaan negara ini memang untuk memaksa semua calon penumpangnya ini melek internet, demi memudahkan semua pihak.

Sisi positif yang bisa kita petik dari langkah PT KAI ini adalah betapa kita semua memang harus mau belajar teknologi informasi yang satu ini jika ingin menjalani hari-hari dengan lebih efektif dan mudah. Jika kita melihat ke luar, beberapa sektor sudah jauh lebih dulu memanfaatkan pelayanan berbasis online, seperti di dunia penerbangan dan perbankan. Dan banyak sektor lain yang juga begitu.

Jadi, masih mau tunggu apalagi untuk mau belajar internet?

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?