covid-19

President in Waiting

Siapa pasangan yang diminati masing-masing calon itu? Agaknya tak lama lagi publik akan segera tahu. Joko Widodo dan Prabowo sudah memiliki sedikitnya tiga calon. Mana yang disukai sebaiknya sejalan dengan kebutuhan bagi pemerintahan mereka mendatang. Dan

EDITORIAL

Jumat, 25 Apr 2014 11:35 WIB

Author

KBR68H

President in Waiting

jokowi, prabowo, Aburizal Bakrie, calon presiden, PDIP

Joko Widodo seperti presiden dalam penantian. Seperti sudah akan segera dilantik saja. Kebanyakan orang Indonesia, terutama lembaga-lembaga survei, dan merujuk data survei, yakin sudah bahwa Joko Widodo akan menjadi presiden RI tahun 2014-2019. Perbawanya telah memikat banyak orang. Ia dirasa seperti mata air di gersang politik Indonesia, kerlip di gulita rimba kuasa Indonesia.

Meski calon dari Partai Golkar tetap bernama Aburizal Bakrie, banyak pengamat menyebut pertarungan sesungguhnya adalah Joko Widodo versus Prabowo Subianto. Koalisi-koalisi antarpartai yang berangkulan makin mengerucut kepada hanya dua nama tadi. Apa benar Joko Widodo yang akan unggul?

Mungkin menjadi mudah bila Joko Widodo dibolehkan tanpa wakil. Konon kabarnya itu lebih mudah memperoleh mayoritas suara. Apalagi setelah Nasional Demokrat yang pertama digandeng Joko Widodo menyilakan sang calon mencari pasangannya sendiri. Tentu itu tak akan terjadi. Itu pendapat lucu-lucuan saja.

Di seberangnya, Prabowo Subianto bukanlah tokoh yang tak boleh dipandang sebelah mata. Angka elektabilitasnya bergerak naik secara meyakinkan. Ia berhasil memikat publik yang rindu akan pemimpin yang tegas. Meski catatan pelanggaran HAM membayangi dan memberatkan langkahnya.

Siapa pasangan yang diminati masing-masing calon itu? Agaknya tak lama lagi publik akan segera tahu. Joko Widodo dan Prabowo sudah memiliki sedikitnya tiga calon. Mana yang disukai sebaiknya sejalan dengan kebutuhan bagi pemerintahan mereka mendatang. Dan tak boleh ditinggalkan: selera publik.

Sayangnya yang terakhir ini masih sulit dijernihkan. Selera publik. Ada nama-nama yang cukup populer bahkan berpengalaman di pemerintahan dan piawai sebagai politikus. Apakah karena selera publik menguat lalu mereka layak? Padahal, kita sama-sama tahu bahwa meski nama-nama itu populer tak cukup informasi diterima mengenai orang bersangkutan. Dan seringkali informasi mengenainya dikaburkan oleh pencapaian-pencapaian yang dikemas sebagai citra belaka.

Baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto sebaiknya tak mendapatkan wakil serupa itu. Apalagi wakil yang hanya dihasilkan dari otak-atik angka koalisi. Politik jatah-jatahan yang ujungnya kita tahu: praktik jarah-jarahan. Tidak. Kita tidak mau yang begitu.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?