Golongan Putih

Beberapa media televisi, Komisi Pemilihan Umum, dan calon anggota legislatif satu bahasa mengenai golongan putih atau golput dalam pemilu.

EDITORIAL

Jumat, 28 Mar 2014 09:30 WIB

Author

KBR68H

Golongan Putih

glongan putih, golput, kpu, pemilu

Beberapa media televisi, Komisi Pemilihan Umum, dan calon anggota legislatif satu bahasa mengenai golongan putih atau golput dalam pemilu. Mereka mengajak warga datang ke tempat pemungutan suara, dan memilih. Satu bahasanya adalah, menurut mereka, bila tak memilih maka suaranya nanti dicurangi.

Lantas saja muncul tanggapan dari beberapa pesohor di Indonesia. Juga pesohor dari golongan muda. Katanya, kalau tak memilih kehilangan hak untuk protes kalau jalannya pemerintahan nanti tidak benar.

Keduanya salah secara politik. Politically incorrect. Menjadi golput tidak akan kehilangan hak konstitusional apapun. Golput itu sendiri suatu hak konstitusional. Warga negara bebas menentukan pilihan: memilih atau tidak memilih. Menakut-nakuti warga bahwa kalau golput nanti suaranya dimanfaatkan oleh pihak yang curang, benar secara teknis tapi keliru secara politik. Juga menunjukkan bahwa parpol memang kerjanya curang, dan KPU-nya gampang dicurangi.

Sejak pemilu 1971, ketika diinisiasi oleh mahasiswa dan cendekiawan, seperti Arief Budiman dan Imam Waluyo, golput adalah gerakan protes. Pada pemilu pertama Orde Baru yang diikuti 10 organisasi peserta pemilu itu, mahasiswa beranggapan bahwa pemilu Indonesia tak membuahkan apapun. Kelompok penentu nasib bangsa pada waktu itu bernama ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Mahasiswa berkampanye agar warga mencoblos bagian putih pada kertas suara. Ini suatu pernyataan: kami tidak memilih kalian.

Pada pemilihan kepala desa di masa lalu di Jawa, bila ada tiga calon bersaing, maka empat wadah disediakan. Wadah keempat adalah bumbung kosong. Warga yang menyatakan “kami tidak memilih kalian” akan memasukkan pilihannya ke bumbung kosong itu. Mereka dihitung. Mereka ada. Itu pula dasar gerakan golput. Tidak memilih kontestan, tapi ada, dihitung, dan berikutnya: mengawasi.

Sepanjang sejarah Orde Baru, kaum golput inilah yang serius mengontrol pemerintah. Memprotes, mengkritik, mengoreksi, dan pada gilirannya bertahun-tahun kemudian: menumbangkan.

Lalu apakah golput penting pada Pemilu 2014? Selamanya golput penting, tapi apa yang ingin ditunjukkan? Saat ini, semua pemain ada di arena pertarungan, beda dengan masa Orba yang pemain utamanya justru tak ikut pemilu. Status mereka hanya layak dipilih atau tak layak dipilih.

Mau menyebut semuanya tak layak dipilih? Tak mungkin. Ada lebih dari enam ribu calon untuk tingkat nasional. Cari tahu dulu. Jangan terus menerus menjadi bangsa yang tergesa-gesa. Bila tetap tak yakin pada satu pilihan, tetaplah datang saja ke TPS. Tusuklah di logo KPU. Dengan begitu Anda sedang berkata kepada KPU dan partai politik: kali lain kalian harus benar-benar membuat kami mengerti siapa calon yang layak dipilih. Dan Anda telah menjadi golput dengan sikap. Bukan karena malas datang atau bangun siang.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pengelolaan Sisa Anggaran Lebih Kembali Disorot