Pesan dari Abu Dhabi

Indonesia saat ini menghadapi ancaman tumbuhnya bibit-bibit radikalisme dan sikap overdosis beragama.

OPINI | EDITORIAL

Kamis, 07 Feb 2019 09:07 WIB

Author

KBR

Imam besar Ahmed al-Tayeb dan Paus Fransiskus

Paus Fransiskus menyalami Imam Besar masjid Al Azhar Al Sharif, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Minggu (3/2/2019).(Foto: Antara/Ryan Carter/Ministry of Presidential Affairs).

Dua orang itu tanpa canggung saling berpelukan dan cium pipi. Ia adalah Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik dunia dan kepala negara Kota Vatikan. Satu lagi Ahmed al-Tayeb, imam besar dan rektor Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. 

Dua orang tokoh yang masuk daftar tokoh agama paling berpengaruh di dunia. Senin lalu mereka bertemu di Monumen Pendiri Uni Emirat Arab di Kota Abu Dhabi. Keduanya berpelukan setelah menandatangani dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama.

Imam Ahmed Tayeb mengatakan dokumen bersejarah itu menyerukan para pembuat kebijakan untuk menghentikan pertumpahan darah dan konflik. Juga soal pentingnya melawan ekstremisme dan terorisme, serta sikap saling melindungi dan menghormati antarumat manusia.

Paus Fransiskus mengatakan bahaya terbesar dunia saat ini adalah pemusnahan, penghancuran, perang, rasa benci di antara manusia. Iman manusia terkalahkan jika tidak bisa saling berjabat tangan dan saling merangkul satu sama lain, memberi ciuman satu dengan lainnya, dan saling mendoakan.

Imam Ahmed al-Tayeb mengatakan para pemimpin agama harus memberi contoh kepada umat bagaimana hidup damai dan saling mencintai sesama umat manusia. Ahmed al-Tayeb mengatakan umat Islam harus melindungi saudaranya umat Kristen.

Pelukan dua tokoh agama itu menjadi contoh bagaimana sikap saling menghormati, hidup berdampingan dan damai, apapun keyakinannya.  Ini menjadi angin segar yang menyebar seantero dunia. Tak kecuali Indonesia, yang saat ini menghadapi ancaman tumbuhnya bibit-bibit radikalisme dan sikap overdosis beragama. Pesan pentingnya, beragama tak boleh individualis atau mementingkan diri sendiri. Beragama juga untuk kebaikan orang lain. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18