Internet dan Remaja Kita

Kasus kriminal oleh anak dan remaja makin membuat kita miris. Selasa lalu (18/2), Kepolisian Sambas, Kalimantan Barat, mengungkap kasus pemerkosaan oleh lima remaja alias anak baru gede (ABG), pelajar SMP dan SD. Mereka berkomplot memerkosa seorang gadis

EDITORIAL

Kamis, 20 Feb 2014 10:04 WIB

Author

KBR68H

Internet dan Remaja Kita

internet, remaja, perkosaan, facebook, pornografi

Kasus kriminal oleh anak dan remaja makin membuat kita miris. Selasa lalu (18/2), Kepolisian Sambas, Kalimantan Barat, mengungkap kasus pemerkosaan oleh lima remaja alias anak baru gede (ABG), pelajar SMP dan SD. Mereka berkomplot memerkosa seorang gadis 14 tahun! Kasus serupa kerap kita jumpai beberapa tahun terakhir.

Selain jadi pelaku, anak dan remaja juga jadi korban. Misalnya, perkosaan remaja oleh orang yang dikenal melalui situs jejaring sosial Facebook. Peristiwa paling tragis terjadi di Mojokerto, Jawa Timur, Desember tahun lalu. Seorang gadis 14 tahun diperkosa 11 pria di area persawahan. Salah satu pelaku dikenal korban dari Facebook.

Tak bisa dipungkiri, internet sungguh mempengaruhi dunia anak-remaja di dunia, termasuk di Indonesia. Selasa lalu, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan Badan PBB untuk anak UNICEF mengungkap, 50 persen alias separuh pelajar di 12 kota besar di Indonesia mengaku pernah mengakses laman pornografi. Survei tahun 2011-2012 itu bahkan menyatakan, separuh dari mereka pernah berhubungan intim.

Data survei mengungkap, 30 juta anak dan remaja mengakses internet. Jumlah itu sekitar 42 persen dari total 71,19 juta total pengguna internet di Indonesia! Data itu bisa dimaklumi. Sebab, kini mengakses internet sangat mudah. Melalui telepon genggam pun, kita bisa berselancar di dunia maya. Di luar rumah, warung internet (warnet) juga menjamur. Lokasi ini jadi tempat kongko-kongko favorit mereka. Padahal kita tahu, internet bak pedang bermata dua, bisa berguna sekaligus merugikan.

Untuk itu, rencana tujuh kementerian, Selasa kemarin (18/2), bersinergi menekan pengaruh negatif internet di kalangan anak dan remaja perlu kita dukung. Ketujuh instansi itu dari kementerian di bidang komunikasi dan informatika, perempuan dan perlindungan anak, hukum dan HAM, pendidikan, agama, dan dalam negeri. Salah satu aksi mereka adalah advokasi anak dalam mengakses internet.

Kita menyerukan agar pemerintah sungguh serius dengan aksinya. Program yang konkrit dan tepat sasaran kita tunggu, bukan sebatas lip service alias omong kosong! Sementara, para orang tua mau-tak-mau kini harus melek internet agar bisa memantau buah hati mereka. Jika semua abai, pertaruhannya adalah kualitas generasi masa depan bangsa kita!

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17