Tahun Peringatan

Sepanjang tahun lalu ada lebih dari 2.500 kasus bencana dengan korban jiwa sekitar 3.300 orang.

OPINI , EDITORIAL

Rabu, 02 Jan 2019 02:33 WIB

Author

KBR

Pencarian korban tsunami Palu

Ilustrasi: Pencarian korban bencana Tsunami Palu (Foto: Antara)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)menyebut 2018 sebagai tahun bencana. Sepanjang tahun lalu ada lebih dari 2.500 kasus bencana dengan korban jiwa sekitar 3.300 orang. Ada tren peningkatan jumlah kejadian bencana di negeri ini, dalam 10 tahun terakhir. Terbanyak tetap bencana hidrometeorologi, atau bencana alam yang disebabkan faktor cuaca seperti banjir, longsor dan puting beliung. Meski begitu, bencana paling mematikan tetap bencana geologi seperti gempa dan tsunami di Palu Sulawesi Tengah serta sekitar Selat Sunda. 

Banyaknya bencana di 2018 jelas bukan karena azab Tuhan pada penguasa, seperti anggapan politis kelompok tertentu belakangan. Ini karena ulah manusia yang merusak alam, ditambah dengan cuaca ekstrem. BNPB memperkirakan bakal ada tren peningkatan kejadian bencana tahun ini. Sayangnya, BNPB menilai mayoritas kita belum siap menghadapi bencana besar, terutama pemerintah daerah.

Memang pengetahuan kebencanaan masyarakat sudah meningkat, tapi ternyata itu belum jadi kebiasaan dan gaya hidup untuk selalu mengaitkan kehidupannya dengan mitigasi bencana.  Upaya mitigasi adalah untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan, baik korban jiwa maupun kerusakan material.

2018 adalah tahun peringatan, khususnya bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan. Ada pekerjaan berat dan panjang yang harus terus dilakukan, yaitu meningkatkan budaya sadar bencana. Jepang memiliki banyak sekali contoh, bagaimana budaya sadar bencana sudah menjadi semacam jaring penyelamat yang bisa mengurangi risiko dan kerugian. Perlu upaya lebih serius dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran itu, agar negeri ini menjadi negeri yang tangguh menghadapi bencana berikutnya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 7-13 September 2019

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Presiden Tegas Tetapkan Darurat Nasional Kabut Asap

Kabar Baru Jam 15