Haruskah Teroris Itu Ditembak Mati?

Enam terduga teroris tewas ditembak tim Densus 88 dalam sebuah aksi penyergapan di daerah Ciputat, Tangerang Selatan pada 31 Desember lalu hingga memasuki tahun baru.

EDITORIAL

Kamis, 02 Jan 2014 16:15 WIB

Author

KBR68H

Haruskah Teroris Itu Ditembak Mati?

teroris, densus 88, tembak mati

Enam terduga teroris tewas ditembak tim Densus 88 dalam sebuah aksi penyergapan di daerah Ciputat, Tangerang Selatan pada 31 Desember lalu hingga memasuki tahun baru. Penggerebekan berlangsung sekitar 10 jam dan diwarnai baku tembak antara terduga teroris dengan tim Densus 88. Dari tujuh terduga teroris, hanya satu orang yang ditangkap dalam keadaan hidup.

Terduga teroris yang tewas di tangan tim Densus 88 sepertinya bukan hal baru. Dalam setiap kali penyergapan, hampir tidak ada terduga teroris yang ditangkap dalam keadaan hidup. Menurut polisi, aksi baku tembak terjadi karena para terduga teroris itu melawan dengan lebih dulu melepaskan tembakan.

Namun, pengamat teroris Nur Huda Ismail menilai, pembunuhan itu justru makin memperkuat militansi dan memperbanyak anggota teroris. Karena itu, ia meminta kepolisian menemukan cara-cara alternatif untuk menangkap teroris. Dalam catatan Nur Huda, ada 80 terduga teroris
yang tewas dalam baku tembak dengan polisi sejak 2002. Tindakan polisi antiteror menangkap terduga teroris tidak dalam kondisi bernyawa telah menjadikan polisi sebagai target utama kelompok militan. Di sepanjang tahun ini, lima anggota polisi tewas dibunuh oleh orang tak dikenal.

Pelakunya diduga kelompok radikal yang menjadikan polisi sebagai target utama. Komnas HAM menduga ada potensi pelanggaran HAM dalam kasus ni menyusul banyaknya terduga teroris yang tewas daripada yang berhasil ditangkap. Perang melawan teroris yang sudah dilakukan sejak kasus bom Natal pada tahun 2000 memang tidak pernah berhenti.

Meski satu per satu gembong teroris berhasil ditangkap dan banyak juga yang dibunuh, kelompok radikal masih tetap bisa menambah jumlah anggotanya. Program deradikalisasi yang diterapkan pemerintah lewat Badan Nasional Penanggulangan Teror sepertinya belum berjalan maksimal.

Membunuh terduga teroris ternyata juga tidak menyelesaikan masalah. Ibarat kata pepatah, patah tumbuh, hilang berganti. Kelompok radikal selalu bisa merekrut orang baru untuk mengganti rekan-rekannya yang tewas dibunuh dan ditangkap. Karena itu, perlu pendekatan lain dalam menangkap terduga teroris selain ditembak mati.

Tembak mati seharusnya menjadi jalan terakhir. Dengan segala peralatan canggih yang dimiliki personil polisi antiteror, seharusnya jumlah terduga teroris yang ditangkap dalam keadaan hidup jauh lebih banyak dibandingkan yang tewas terkena timah panas. Toh, terduga teroris yang ditangkap dalam keadaan hidup akan bisa membantu polisi untuk membongkar anggota kelompok radikal itu dibandingkan dalam keadaan tidak bernyawa.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme