Media Massa dan Kritik Publik

Temuan terakhir dari Komisi Penyiaran Indonesia menyebutkan kalau program berita yang paling banyak dikeluhkan masyarakat adalah berita dan perbincangan. Temuan ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, di mana penonton lebih banyak protes soal serial si

EDITORIAL

Selasa, 29 Jan 2013 09:59 WIB

Author

KBR68H

Media Massa dan Kritik Publik

media massa, kritik, metro tv, tv one, sinetron

Temuan terakhir dari Komisi Penyiaran Indonesia menyebutkan kalau program berita yang paling banyak dikeluhkan masyarakat adalah berita dan perbincangan. Temuan ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, di mana penonton lebih banyak protes soal serial sinetron.

Sedikit banyak, ini menunjukkan ada peningkatan kualitas dari penonton televisi Indonesia. Harus diakui, menonton sinetron TV tak butuh banyak logika. Yang lebih mungkin terjadi justru logika Anda diputarbalikkan oleh sinetron.

Dengan menonton berita, penonton bisa melihat ada sisi pro dan kontra dari suatu peristiwa. Bahwa kebenaran bukanlah satu hal utuh yang tak bisa dikutak-katik. Kebenaran itu tergantung dari sisi mana yang bicara, kadang tergantung pada siapa yang lebih lantang bicara. Kebenaran kadang tergantung pada televisi mana yang Anda tonton. Satu peristiwa bisa dimaknai berbeda oleh televisi yang berbeda pula.

Dua stasiun televisi yang paling banyak dapat teguran KPI untuk program berita dan perbincangannya adalah Metro TV dan TV One. Dua televisi ini memang bersaing di ranah yang sama sejak awal: TV berita. Kedua televisi ini banyak diadukan lantaran dianggap melanggar kode etik jurnalistik. Bisa jadi publik tak paham dengan rinci apa yang dimaksud dengan kode etik jurnalistik. Tapi bagaimana pun, KPI mendapat pengaduan soal ini juga dari masyarakat yang kian melek berita.

Saat banjir terakhir menerjang Jakarta, ada banyak tulisan di media sosial yang membandingkan kedua televisi tersebut dalam meliput soal bencana. Ini juga gelagat yang sangat positif dari penonton televisi Indonesia. Penonton siap mengkritik berita yang mereka tonton di televisi, termasuk untuk tidak sepakat dengan apa yang disampaikan oleh televisi. Ini adalah sesuatu yang tak terbayangkan ketika media ada di bawah kendali Orde Baru.

Jika ditarik dalam perspektif yang lebih luas, ini juga gelagat yang baik bagi media secara keseluruhan – tak hanya televisi. Media tak lagi bisa satu arah dalam menyampaikan informasi, tapi harus me-reken pendapat dari masyarakat. Karena kritik dan komentar dari audiens bisa begitu kejam dan meluas dengan bantuan sosial media yang sangat digemari di negeri ini. Media boleh saja punya agenda settting tapi pergerakan dan pergolakan di masyarakat bisa membuyarkan apa yang dirancang oleh media.

Kekritisan publik perlu terus dijaga demi membuat lingkungan media yang semakin sehat. Dengan media yang sehat, maka publik bisa mendapatkan haknya atas informasi yang utuh dan berimbang. Dengan publik yang kritis, media bisa selalu mendapatkan kritik demi peningkatan kualitas isi beritanya. Publik dan media memang harus menari segendang sepenarian jika ingin menjaga dunia ini sama-sama waras – dan kritis

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste