Belajar dari Karanganyar

Banyak yang menilai, program pelestarian lingkungan memerlukan dana yang besar. Karena itu, tidak jarang kepala daerah sering mengeluh minimnya dana yang dialokasikan di APBD untuk program lingkungan. Keterbatasan dana sering dijadikan alasan terhambatnya

EDITORIAL

Rabu, 02 Jan 2013 15:00 WIB

Author

KBR68H

Belajar dari Karanganyar

Karanganyar, Rina Iriani

Banyak yang menilai, program pelestarian lingkungan memerlukan dana yang besar. Karena itu, tidak jarang kepala daerah sering mengeluh minimnya dana yang dialokasikan di APBD untuk program lingkungan. Keterbatasan dana sering dijadikan alasan terhambatnya atau bahkan terhentinya program lingkungan.

Apabila ada kasus seperti ini, mungkin kita perlu belajar banyak dari Kabupaten Karanganyar. Kabupaten dengan luas kurang lebih 77 ribu hektar itu bisa menerapkan program pelestarian lingkungan tanpa harus mengeluarkan dana besar. Program tersebut dikenal dengan nama tanam, tanam dan tanam.

Dari namanya, kita pasti sudah tahu maksud dari program itu adalah menanam pohon. Tentu tidak ada yang baru dengan program yang diluncurkan Bupati Rina Iriani tersebut. Hampir sebagian besar kabupaten, kota dan juga provinsi menggiatkan program penanaman pohon. Bahkan, bisa dibilang, program pelestarian lingkungan yang paling populer adalah menanam pohon.

Namun, program tanam, tanam dan tanam ala Bupati Rina Iriani ini berbeda dengan daerah lain. Benar, warga Karanganyar diwajibkan untuk menanam pohon. Tapi selain menanam pohon ada lagi aturan yang harus dipenuhi yaitu tidak boleh menebang pohon. Karena ataran tersebut dikeluarkan dalam bentuk Perbup, maka ada sanksi bagi mereka yang melanggar. Sanksinya adalah hukuman penjara.

Inti dari peraturan tersebut, warga sama sekali tidak boleh menebang pohon. Bahkan, pohon yang ada di halaman rumah mereka sendiri. Lalu, apa ini artinya tidak ada pohon yang sama sekali boleh ditebang di Kabupaten Karanganyar. Tentu saja ada, tapi untuk menebang pohon harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bupati Rina Iriani.

Bupati Rina tidak serta merta mengeluarkan aturan ini seperti jatuh dari langit. Dia melakukan sosalisasi terlebih dahulu kepada warga. Kata dia, memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan jauh lebih sulit ketimbang mengeluarkan peraturan bupati. Selain itu, masyarakat punya kecenderungan untuk menjalani peraturan apabila mendapat contoh langsung dari pemimpinnya.

Karena itu, Bupati Rina tanpa sungkan sering turun ke lapangan untuk memberi contoh. Yang paling gampang adalah memungut sampah yang berserakan di jalan. Aturan tanam, tanam dan tanam serta larangan menebang pohon sudah memperlihatkan hasil yang positif. Debit air terus meningkat dari 15 liter per detik pada 2005 menjadi 35 liter per detik pada tahun ini.

Terobosan yang dilakukan Bupati Rina ini membuat Karanganyar terpilih sebagai juara di ajang Indonesia Green Region Award 2012, acara yang digelar KBR68H bersama Majalah SWA. Bupati Rina sudah memberi contoh, program menjaga kelestarian lingkungan tidak melulu harus mengeluarkan dana besar.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - EDITORIAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?

Kabar Baru Jam 14