Share This

Indonesia Gagal Raih Gelar di Indonesia Open 2015

Nitya Krishinda Maheswari dan Greysia Polii, kalah dari pasangan Tiongkok, Tang Jinhua dan Tian Qing.

BERITA , OLAHRAGA

Minggu, 07 Jun 2015 19:58 WIB

Ganda putri Indonesia Nitya Krishinda Maheswari (kiri) dan Greysia Polii. Foto: Antara

Ganda putri Indonesia Nitya Krishinda Maheswari (kiri) dan Greysia Polii. Foto: Antara

KBR - Indonesia dipastikan gagal meraih gelar di BCA Indonesia Open Superseries Premier 2015. Dalam pertandingan final, satu-satunya wakil Indonesia yang lolos ke final, Nitya Krishinda Maheswari dan Greysia Polii, kalah dari pasangan Tiongkok, Tang Jinhua dan Tian Qing. Padahal, Nitya/Greysia membuka pertandingan dengan baik. Mereka sempat memimpin dalam perolehan poin hingga Tang/Tian menyamakan posisi 10-10. 

Pasangan Indonesia menambah satu poin, tetapi Tang/Tian merespons dengan mencatat 11 poin beruntun yang memastikan gim pertama jadi milik Tiongkok. Namun, pada gim kedua, Tang/Tian sepenuhnya menguasai pertandingan. Mereka terus mendulang poin, sementara Nitya/Greysia seperti menemui jalan buntu. Tang/Tian memenangi gim ini dengan keunggulan mutlak. Kegagalan NItya/Greysia memastikan Indonesia tidak meraih gelar dalam dua penyelanggaraan terakhir Indonesia Open. Sementara di ganda putri, kali terakhir Indonesia juara pada 2008 lewat Vita Marissa/Liliyana Natsir. 

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.