Memasuki Penghujan, Puluhan Desa di Banyumas Masih Krisis Air

Musim hujan tiba di Banyumas, Jawa Tengah pada dasarian ketiga Oktober lalu.

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 02 Nov 2018 18:26 WIB

Author

Muhamad Ridlo Susanto

Memasuki Penghujan, Puluhan Desa di Banyumas Masih Krisis Air

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/ Abriawan A)

KBR, Banyumas – Banyumas, Jawa Tengah memasuki musim penghujan sejak dasarian ketiga Oktober 2018. Namun begitu menurut Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Kusworo, puluhan desa masih mengalami krisis air bersih.

Ia menduga, hal tersebut terjadi lantaran hujan rata-rata terjadi di wilayah lereng Gunung Slamet atau kawasan bagian atas. Daerah-daerah di sana kata dia, memang bukan desa yang terdampak kekeringan.

Adapun di daerah dataran rendah, seperti wilayah bagian selatan dan barat Banyumas, hujan masih sporadis dan belum terserap tanah. Akibatnya, sumur warga pun masih kering.

Kusworo mengungkapkan, hingga Oktober lalu krisis air bersih melanda 66 desa di 15 kecamatan di Banyumas. Rata-rata desa itu berada di luar lingkar lereng Gunung Slamet seperti Kecamatan Lumbir, Purwojati hingga wilayah timur di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh.

"Masih tetap (jumlah desa yang mengalami krisis air bersih), belum ada pengaruh untuk hujan ini. Data terakhir itu, ada 66 desa," kata Kusworo di Banyumas, Jumat (2/11/2018).

Ia menambahkan, permintaan pengiriman air bersih ke desa-desa terdampak kekeringan pun meningkat. "Yang berangkat kemarin saja baru pulang tadi jam 10.00 WIB. Mengirim dalam waktu 24 jam lebih, 30 jam malah. Karena lokasi (pengiriman air bersih) jauh, kemudian permintaan juga semakin banyak dengan jumlah armada yang terbatas. Karena hujan itu kan wilayah utara, dari Purwokerto ke utara. Yang daerah selatan dan barat belum," kata dia.

Sementara Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan mengatakan musim hujan di selatan Garis Katulistiwa, terutama di Pulau Jawa memang mundur antara satu hingga tiga dasarian akibat fenomena El Nino Lemah. El Nino menyebabkan kemarau lebih panjang dari biasanya.

Ia mencontohkan, di Banyumas musim hujan mundur dua dasarian dari yang biasanya awal Oktober menjadi akhir Oktober. Tapi sebagaimana lazimnya awal penghujan, biasanya intensitas masih ringan dan belum merata. Akan tetapi, BMKG memperkirakan pada November intensitas hujan mulai meningkat.

Rendy menambahkan, fenomena El Nino juga mengakibatkan curah hujan di beberapa wilayah di Jawa Tengah lebih rendah dari biasanya. Namun, sebagian besar wilayah lain tak terdampak. Bahkan diperkirakan ada pula daerah yang mengalami hujan di atas normal pada 2018, utamanya di daerah pegunungan, seperti kawasan Gunung Slamet.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mendikbud Nadiem Makarim Diminta Perbaiki Mental dan Moralitas