Waspadai Bahaya Kaki Gajah

Ketika kaki sudah dalam keadaan bengkak, maka sudah sulit untuk disembuhkan dan mengakibatkan kecacatan menetap

INTERMEZZO , NUSANTARA

Senin, 01 Okt 2018 15:34 WIB

Author

Yogi Ernes

Waspadai Bahaya Kaki Gajah

Sunardi, SKM, MKM, dan Prof. Dr. Dra. Taniawati Supali menjelaskan bahaya penyakit kaki gajah kepada KBR

KBR, Jakarta- Filariasis atau penyakit kaki gajah masih sering ditemui di beberapa daerah Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan bagian timur Indonesia masih rawan  penyakit ini.

Menurut Prof. Dr. Dra. Taniawati Supali, Anggota National Task Force Filariasis, penyakit ini disebabkan oleh cacing yang hidup di saluran dan kelenjar getah bening. Gejala awalnya, demam seperti flu biasa, pembengkakan pada ketiak, lipatan paha, serta kelenjar getah bening. 

"Induk cacing yang hidup di kelenjar getah bening tersebut, sanggup menghasilkan anak-anak cacing atau disebut mikrofilaria yang biasanya ditemukan di dalam darah," ujar Taniawati Supali dalam program Ruang Publik KBR, Senin (1/10/2018). 

Ia menambahkan, penyakit kaki gajah akan menyebabkan kerusakan pada kelenjar dan saluran getah bening, di mana dua hal tersebut merupakan bagian penting untuk sistem pertahanan tubuh.

Selama ini, menurut Tania, ada mitos yang keliru terkait penyakit kaki gajah. Misalnya, ada yang menyebut penyakit kaki gajah adalah faktor keturunan atau makanan, padahal itu tidak benar. Ia menjelaskan, kaki gajah, ditularkan oleh nyamuk.  

"Hal yang paling berbahaya dari penyakit ini adalah ketika jari atau kaki kita terinfeksi, durasi untuk menjadi bengkak membutuhkan waktu hingga  5 tahun. Selama kurun waktu tersebut, bentuk kaki penderita masih dalam keadaan normal, namun di dalam tubuhnya sudah penuh akan cacing dan mikrofilaria, " ujarnya.

Ia menambahkan, ketika kaki sudah dalam keadaan bengkak, maka sudah sulit untuk disembuhkan dan mengakibatkan kecacatan menetap.

Penyakit kaki gajah, tak melulu menyerang orang dewasa.  Menurut Taniawati, penyakit ini bisa mengenai siapa saja dan kelompok usia berapa saja.

“Saya pernah menemui kasus pada salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur NTT. Ada anak umur 12 tahun yang terkena kaki gajah. Jadi pas kita ambil darah ini anak, tiap satu cc darahnya itu mengandung 6000 anak cacing. Itu contoh kecil saja, meski secara jumlah usia 20 tahun ke atas yang paling banyak diserang,” jelasnya.


Dorong Masyarakat  Peduli Program Eliminasi Kaki Gajah

Sejak Oktober 2015 lalu, pemerintah sudah mencanangkan "Bulan Elaminasi Kaki Gajah". Hal ini dikatakan oleh Staf Subdit Filariasis dan Kecacingan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Sunardi, SKM, MKM.

Program tersebut tertuang pada kegiatan-kegiatan pemberian obat yang dilaksanakan di puskesmas-puskesmas yang berada di daerah endemis filariasis. Sunardi mengatakan, Kementerian Kesehatan sudah bekerja sama dengan lima stasiun televisi, beberapa radio, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dalam melakukan sosialisasi pemberian obat ini.

“Kalau masyarakat yang berada di daerah endemis filariasis, yang melaksanakan pengobatan massal maka mereka harus minum obat. Jadi masyarakat yang berusia 2 hingga 70 tahun harus minum obat sebagai upaya pencegahan penyakit kaki gajah ini,” ungkap Sunardi.

Saat ini,  ada 236 kabupaten kota endemis filariasis di Indonesia. Bulan Oktober sampai November tahun ini kurang lebih ada sekitar 130 kabupaten yang melaksanakan pemberian obat. Sunardi menyarankan, masyarakat harus datang ke puskesmas-puskesmas setempat untuk mendapatkan obat tersebut dan  gratis.

Sunardi menjelaskan bentuk obat kaki gajah berbentuk tablet dengan nama diethycarbamazine (DEC) dan tablet albendazole. Kedua obat ini disebut ampuh membunuh anak-anak cacing dan memandulkan induk cacing.

Taniawati menambahkan kerap kali setelah penderita kaki gajah mengkonsumsi obat tersebut, maka 4- 6 jam kemudian akan menimbulkan efek samping berupa pusing dan demam. Namun, menurutnya, hal itu normal, menandakan obatnya sedang bereaksi.

"Bagi anak-anak juga setelah mengkonsumsi obat tersebut kadang bisa sampai mengeluarkan cacing lewat tinjanya. Jadi jangan takut karena biasanya di puskesmas-puskesmas para perawatnya sudah diberi pelatihan dalam menangani hal tersebut,” ungkap Taniawati.

“Sekali lagi penting bagi masyarakat untuk melakukan konsumsi obat sebagai upaya pencegahan kaki gajah ini. Karena jika sudah bengkak maka sudah tidak bisa disembuhkan lagi,” tambahnya.


 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Aktif di Dunia Maya, Perempuan Rentan Radikal

Mau Lawan Bullying? Mari Kembali ke Keluarga

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17