Jelang Hari Raya Kurban, Ternak di Sumbawa Belum Bebas Antraks

“Yang perlu kita khawatirkan di NTB ini ada beberapa penyakit sebenarnya. Yang pertama antraks, terutama sapi dan kambing yang berasal dari pulau Sumbawa."

BERITA | NUSANTARA

Kamis, 01 Agus 2019 17:42 WIB

Author

Zainudin Syafari

Jelang Hari Raya Kurban, Ternak di Sumbawa Belum Bebas Antraks

Petugas Dinas Peternakan memeriksa kesehatan dan kelayakan hewan kurban di pasar hewan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (30/7/2019). (Foto: ANTARA/Anis Efizudin)

KBR, Mataram- Menjelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai masuknya hewan kurban dari Pulau Sumbawa, NTB.

Ternak di pulau tersebut belum sepenuhnya bebas dari penyakit antraks.

“Yang perlu kita khawatirkan di NTB ini ada beberapa penyakit sebenarnya. Yang pertama antraks, terutama sapi dan kambing yang berasal dari pulau Sumbawa. Karena di Pulau Sumbawa itu masih daerah tertular antraks,” kata Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) NTB,  drh. Muslih, Kamis (1/8/2019).

Menurut drh. Muslih, antisipasi masuknya virus antraks ini dilakukan oleh Balai Karantina. Namun ia memastikan, sampai Kamis (1/8/2019) tidak ada hewan kurban dari Sumbawa yang masuk ke Pulau Lombok.


120 Anggota PDHI NTB Lakukan Pemeriksaan

PDHI NTB menyiagakan 120 orang anggotanya untuk memeriksa hewan ternak di NTB. Pemeriksaan akan terus berjalan hingga Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019.

Dari pemeriksaan di sejumlah titik di Lombok Barat dan Kota Mataram, PDHI menemukan ada hewan kurban yang sakit kulit dan mata. Namun, hewan dengan penyakit tersebut dinilai tidak berbahaya untuk dikonsumsi.

Selain penyakit kulit, petugas menemukan sejumlah kambing yang cacat. Petugas pun meminta agar hewan kurban tersebut tidak dijual, karena tidak memenuhi syarat kurban.

Editor: Adi Ahdiat

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Sejumlah Daerah Protes Hasil Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Pancasila Merajut Keberagaman Indonesia

Kabar Baru Jam 13