Share This

Kolintang Menggema di Batu Putih hingga Moscow

Pertunjukan Kolintang itu rupanya sudah mendunia. Bukan hanya memesona pengunjung kawasan Batuputih saja. Alunan nada Kolintang dari Sanggar Prima Frista bahkan sudah menggema hingga Moscow, Rusia.

NUSANTARA

Jumat, 31 Agus 2018 22:59 WIB

Sejumlah anak muda memainkan alat musik Kolintang khas Sulawesi Utara di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018). (Foto: KBR/Eka Jully)

KBR, Bitung - Alunan lagu "Rasa Ini" dari Viera, meramaikan suatu pagi di kawasan wisata alam Batuputih Bitung, Sulawesi Utara.  

Satu persatu orang keluar dari tenda untuk melihat lebih dekat irama lagu dari alat musik yang dimainkan.
 
Puluhan anak siswa Sekolah Dasar, tamu undangan,  dan peserta di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 HKAN2018, mulai mengerubungi enam alat musik yang dipukul-pukul, mirip alat musik gamelan.

Ada beberapa pengunjung mencoba memainkannya, memegang alatnya atau sekedar merekam aksi para pemain.

Alat musik yang menarik perhatian pengunjung ini namanya Kolintang, khas Sulawesi Utara. Jika gamelan terbuat dari lempengan besi, maka kolintang terbuat dari kayu.

Saat KBR menikmati musik yang  dimainkan  oleh enam orang pemuda, rupanya mereka sedang gladi resik.

Gladi resik itu dilakukan untuk memeriahkan acara dan menyambut kedatangan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bersama rombongan. Pagi itu, Kamis (30/8/2018) adalah puncak Peringatan HKAN 2018.


Anak Muda dari Sanggar Prima Frista, Minahasa Utara memainkan alat musik Kolintang khas Sulawesi Utara di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018)

Para anak muda itu piawai sekali memainkan Kolintang. Mereka berasal dari Sanggar Prima Frista. Sanggar ini berada di Minahasa Utara, di bawah Kaki Gunung Klabad. Pemimpin sanggar, Stave Tuwaidan (40) turut unjuk gigi.

Pertunjukan Kolintang itu rupanya sudah mendunia. Bukan hanya memesona pengunjung kawasan Batuputih saja. Alunan nada Kolintang dari Sanggar Prima Frista bahkan sudah menggema hingga Moscow, Rusia.

Menurut Stave, mereka baru saja pulang dari Moscow, Rusia, menghadiri undangan dari Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk mengisi acara Festival Musik Indonesia di kota terpadat di Rusia itu.

"Kami hampir dua minggu berada di Moscow. Sekitar tiga minggu lalu. Sebelumnya kami tampil di Beogard (Ibukota Serbia). Yang tampil di Taman Wisata Alam Batu Putih ini adalah grup yang the best," kata Stave bangga.  

Selain lagu Viera, Stave dan kawan-kawan juga mempersembahkan lagu Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, hingga beberapa lagu pop lainnya, di depan ribuan pengunjung dan pegiat lingkungan dari beberapa daerah di Indonesia itu.

Nada-nada dari enam buah alat musik Kolintang riuh menggema, mengalun indah dan rapi diiringi suara merdu penyanyinya. Maklumlah, para anak muda yang memainkannya adalah Juara Nasional Festival Musik Kolintang Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) dari seluruh Indonesia, pada Mei 2018 di Surabaya.

Pada 2014, 2017 dan 2018, mereka pun menjuarai Lomba PINKAN  (Persatuan Insan Kolintang Nasional) di Surabaya, Semarang dan Jakarta.  Saat ajang Festival Klabat Sulut, pada 2015, mereka juga menjadi pemenangnya.

Kata Stave, sejak 2013 sampai saat ini, grupnya rajin memenangkan beberapa kejuaraan festival musik Kolintang tingkat nasional maupun daerah.

Ada 40 orang belajar bermain kolintang di bawah bimbingannya. Mereka datang dari berbagai usia. Di Sulawesi Utara, kata Stave, ada sekitar 50 grup Kolintang. Ada yang dimainkan anak SD, SMP, SMU serta orang tua.

Ratusan nada lagu mereka hafal, sebagai bank musik grup ini. Setiap tampil, lagu yang dihadirkan menyesuaikan dengan segmen acara atau penonton. Namun, mereka paling sering memainkan lagu instrumen, sebagaimana juga lagu barat, nasional, pop dan dangdut.

"Tahun 2008  saya sudah serius memainkan kolintang. Saya lalu membuat grup musik pada 2012. Saya yang melatih dan memproduksi alatnya sendiri. Saya ingin regenerasi, karena dulu saya lihat yang memainkan musik ini orang tua-tua," kata Stave.

Karena keseriusannya dengan kolintang, sarjana Tehnik Sipil ini pun memproduksi atau membuat alat musik kolintang sendiri.

Stave Tuwaidan, Pemain Kolintang, yang juga Pemimpin Sanggar Prima Frista, Minahasa Utara

Selain digunakan oleh grup sanggarnya, alat musik Kolintang yang mereka produksi pun, dijual. Mereka bahkan pernah menjual alat musik Kolintang ke Moscow dan Amerika. Satu set Kolintang, dijual seharga Rp 40 juta.

Stave menjelaskan, satu set Kolintang terdiri dari sembilan hingga 10 alat musik, sesuai standar nasional. Ada yang berfungsi layaknya piano, melodi 1, melodi 2 dan  melodi 3, gitar 1, gitar 2, banyo 1, 2 dan 3, cakolele, serta bass dan contra bass.

"Untuk pembuatan Kolintang, kayu kelas dua seperti kayu waru sudah bisa hasilkan bunyi. Tapi, kita bisa melihat atau menilai secara estetikanya. Kalau terbuat dari kayu cempaka akan nampak bewarna putih. Kolintang yang disajikan  di helatan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 ini terbuat dari kayu cempaka," kata Stave.

Meski satu set Kolintang ada 9, namun jika tampil, tak harus membawa semua lengkap. Bahkan jika alat yang dimainkan hanya hanya 4 sampai 6, suaranya sudah cukup "ribut".
"Yang penting sudah mewakili melodi, " jelasnya.

Stave kini senang melihat perkembangan Kolintang mulai banyak digemari kalangan muda. Padahal, dulunya, pemain kolintang kebanyakan orang tua.

"Karena pengembangan yang kita lakukan, sekarang pemain Kolintang di Sulawesi Utara kebanyakan anak muda. Malah kalau ada orang tua yang datang, mereka hanya nonton dari belakang. Di grup yang tua-tua, saya juga yang paling muda," katanya.

Stave berpesan, walaupun alat musik Kolintang merupakan jenis alat musik tradisional, tapi sebaiknya tidak dilihat dari sudut pandang tradisi terus menerus, karena tradisi itu terkesan seperti murah.

Ia menyarankan, agar Kolintang dilihat sebagai alat  musik yang lebih bernilai. Apalagi Kolintang sedang go to UNESCO atau sedang dalam proses dipatenkan.

┬░Kita harus menjaga dan melestarikan. Kalau dunia ingin mengakui, maka kita juga harus mengakui. Tak susah untuk belajar memainkan Kolintang. Sama seperti bermain piano. Kalau tingkat dasar, 30 menit belajar sudah bisa  bermain Kolintang," kata Stave semangat.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.