Share This

Jutaan Ikan Mati Mendadak di Perairan Danau Toba

Jutaan ekor ikan mas dan nila mati mendadak di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Kamis (23/8).

BERITA , NUSANTARA

Kamis, 23 Agus 2018 14:37 WIB

Ilustrasi: Sebuah kapal sedang berlayar di perairan Danau Toba. (Foto: ANTARA/ Irsan M)

KBR, Samosir - Jutaan ekor ikan mas dan nila mati mendadak di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, Kamis (23/8). Ikan-ikan milik petani di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir itu dipelihara di dalam ratusan keramba. Salah seorang pemilik keramba ikan, Roy Malau mengaku, belum mengetahui penyebab matinya ikan di perairan danau terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

"Ada puluhan petani di sana. Saya punya 6 keramba. Tapi ada juga yang punya 150 keramba mati semua," kata Roy, Kamis (23/8). 

Ia melanjutkan, jutaan ikan yang mati di perairan Danau Toba adalah jenis yang sudah siap dipanen. Saat ini, rata-rata yang tersisa hanya bibit ikan yang berukuran kecil. 

"Ikan-ikan yang ada di keramba mulai lemas pada Senin (20/8), bahkan sebagain sudah di dasar jaring. Kemudian kami coba memberikan oksigen ke ikan-ikan itu. Tapi, kemarin pagi ikan sudah banyak yang mati," ujar warga Aek Nihuta ini.

Bupati setempat, serta petugas dari instansi terkait sudah datang guna memeriksa langsung kondisi di lapangan. Saat ini, kondisi di tepi Danau Toba, khususnya di Kecamatan Pangururan, dipenuhi bangkai ikan yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap.

"Alat berat sudah didatangkan untuk membantu penguburan ikan di lahan kosong milik warga. Sebelum dikuburkan, ikan itu dibawa dari keramba ke tepi danau menggunakan perahu nelayan. Tapi baru 4 lubang keramba yang dievakuasi ikannya. Lainnya masih banyak di keramba," imbuhnya.

Akibat peristiwa tersebut, banyak petani lokal yang mengalami kerugian, meski belum dirinci total jumlah kerugian. Para petani keramba ikan berharap, pemerintah setempat dapat memberikan bantuan dan mencari solusi agar hal serupa tak kembali terjadi.  

Sebab, peristiwa matinya jutaan ikan di perairan Danau Toba bukan pertama kali. Bahkan, sudah berulang kali terjadi. Tercatat pada 2004, hal yang sama terjadi di kawasan Haranggaol. Saat itu penyebabnya lantaran virus herpes koi. Lalu, pada  Mei 2016, lebih dari 1.000 ton ikan mati. Tapi, kematian itu dikonfirmasi bukan karena penyakit. Pada awal 2017, di  kawasan Tongging dan Silalahi juga terjadi kasus kematian ikan secara massal.

Editor: Sindu Dharmawan



 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.