Kemarau, 20 Ribu Hektare Sawah di Banyuwangi Terancam Gagal Panen

"Kalau itu satu atau dua bulan tidak ada hujan, maka ini kemungkinan air tersuplai ke daerah itu sangat kecil sekali," kata Ketua HKTI Banyuwangi.

BERITA | NUSANTARA

Jumat, 28 Jun 2019 11:26 WIB

Author

Hermawan Arifianto

Kemarau, 20 Ribu Hektare Sawah di Banyuwangi Terancam Gagal Panen

Areal persawahan mengalami kekeringan di Desa Banjar Anyar, Brebes, Jawa Tengah, Senin (17/6/2019). Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah)

KBR, Banyuwangi- Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Banyuwangi, Jawa Timur, mendata ada sekitar 20 ribu hektare sawah di daerahnya yang terancam gagal panen.

Area persawahan itu tersebar di enam kecamatan yakni Tegaldelimo, Purwoharjo, Cluring, Muncar, Bangorejo dan Pesanggaran.

Para petani di 6 kecamatan tersebut biasanya mengandalkan suplai air dari Sungai Kalibaru dan Sungai Setail. Namun, kini debit air sungai sudah mulai menyusut.

“Memang daerah di wilayah selatan sungai Kali Stail ini sangat tergantung sekali dengan aliran sungai Kali Stail dan Kalibaru itu. Kalau itu satu atau dua bulan tidak ada hujan, maka ini kemungkinan air tersuplai ke daerah itu sangat kecil sekali," kata Ketua HKTI Banyuwangi, Muhammad Safuan kepada KBR, Jumat (28/6/2019). 

Untuk merespon kondisi ini, para petani mulai memberlakukan sistem pengairan bergilir. "Di beberapa tempat sudah mulai gelibakan (bergilir). Jadi sistem gelibakan mengatur mana yang lebih membutuhkan dulu gantian per blok,” jelas Safuan.

Menurut Safuan, jika debit air terus menyusut, para petani terpaksa harus mengunakan sumur bor untuk mengairi sawahnya. Namun, mereka butuh biaya tambahan untuk membuat sumur bor.

Untuk menekan kerugian akibat kemarau, HKTI Banyuwangi mengimbau para petani di daerahnya untuk beralih cocok tanam dari padi ke palawija.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Keluarkan Biaya Sendiri untuk Visum