Share This

Arus Kendaraan di Jalur Selatan Meningkat 48 Persen

Kendaraan yang melintasi jalur Selatan didominasi pengendara sepeda motor

NUSANTARA

Selasa, 20 Jun 2017 22:00 WIB

Author

Sigit Zulmunir

Arus Kendaraan di Jalur Selatan Meningkat 48 Persen

Arus kendaraan yang melintasi jalur Selatan, Jawa Barat, Selasa (20/6). Foto: Sigit Zulmunir

KBR, Garut - Arus lalu lintas di jalur Selatan Jawa Barat meningkat hingga 48 persen dibanding hari biasa. Jumlah kendaraan pada H-5 Lebaran mencapai 210 ribu kendaraan. Koordinator Posko Angkutan Lebaran Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Isnuri Winarko memprediksi volume kendaraan akan terus mengalami peningkatan. Menurutnya, kendaraan pemudik sudah mulai nampak pada Selasa (20/6) pagi. Sementara laju kendaraan bisa dipacu di atas 50 kilometer/jam.

"Untuk pemudik sekiranya masih daerah lokal yakni ke Garut dan Tasikmalaya atau perbatasan. Kalau ke arah timur sendiri (Jawa Tengah dan Timur) masih belum. Melihat dari posisi liburnya ini. Prediksi puncak mudik akan terjadi pada H-2 di hari Jumat karena sudah libur," ujar Isnuri saat ditemui KBR.

Isnuri Winarko menambahkan, hingga saat ini kendaraan pemudik yang melintas Nagreg masih didominasi sepeda motor. Jumlahnya mencapai 60 persen dari kendaraan yang melintas. (dmr) 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.