Korban Banjir Sigi Jalani Puasa Ramadan di Tenda Pengungsian

"Habis mau gimana lagi. Kita harus menerima semua cobaan ini dengan hati yang ikhlas," kata Marni, korban banjir yang kini terpaksa tinggal di pengungsian.

BERITA | NUSANTARA

Selasa, 21 Mei 2019 14:57 WIB

Author

Adi Ahdiat

Korban Banjir Sigi Jalani Puasa Ramadan di Tenda Pengungsian

Tenda pengungsian korban banjir bandang di Desa Tuva, Kec. Gumbasa, Kab. Sigi, Sulawesi Tengah (4/5/2019). Banjir bandang yang terjadi pada Minggu (28/4/2019) melanda enam desa dan menimbun sediktinya 500 rumah penduduk. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki/foc)

KBR, Jakarta - Korban bencana banjir bandang di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sampai saat ini masih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Mayoritas warga Sigi yang beragama Islam pun harus menjalani ibadah puasa Ramadan dalam kondisi penuh keterbatasan.

"Habis mau gimana lagi. Kita harus menerima semua cobaan ini dengan hati yang ikhlas," kata Marni, seorang korban banjir bandang di pengungsian Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi (21/5/2019) sebagaimana dikutip dari Antara.

Rumah dan berbagai harta benda Marni habis diterjang banjir. Sampai sekarang ia dan keluarganya tinggal di tenda pengungsian, dan hanya mengandalkan barang bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman serupa juga dialami Mutia, seorang ibu rumah tangga yang rumahnya tersapu banjir.

"Kami sahur dan buka puasa ala kadarnya saja," kata Mutia. "Tiap hari ada saja bantuan yang disalurkan pihak-pihak yang peduli korban bencana alam," tambahnya.

Menurut Mutia, selama dua minggu belakangan barang bantuan untuk korban banjir Sigi masih terus berdatangan, termasuk yang berbentuk makanan serta minuman untuk buka puasa. 

Meski banyak bantuan, warga di sejumlah kawasan pengungsian masih cemas akan datangnya banjir bandang susulan.

"Terus terang kami masih cemas karena banjir susulan bisa terjadi kembali, mengingat curah hujan di hulu sungai masih tinggi," ujar Mutia.


Kawasan Hulu Sungai Rusak

Banjir bandang besar melanda sejumlah desa di Kabupaten Sigi beberapa hari menjelang Ramadan, tepatnya pada 28 April 2019.

Menurut data BNPB, banjr ini menyebabkan 1 orang meninggal, 2.793 orang dievakuasi, 5 rumah hancur, 36 rumah rusak berat, dan 528 rumah terendam banjir beserta lumpur. Ketebalan lumpurnya bervariasi dari 10 sentimeter hingga 3,5 meter.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Tengah, Stevandi, memperkirakan bencana ini terkait kerusakan hutan di kawasan hulu sungai setempat.

Dalam investigasi pasca banjir, tim WALHI menemukan ada banyak kayu gelondongan yang terbawa hanyut.

“Cukup banyak, bahkan gelondongan-gelondongan (kayu) yang cukup besar, dan ini gelondongan ada yang sudah bukan baru, tapi gelondongan yang sudah cukup lama, terlihat dari struktur kayu yang turun itu. Ini bukan kayu-kayu baru. Nah dugaan kita, karena juga hasil investigasi di bawah, kayu-kayu ini ditimbun, kemudian saat hujan datang, diseret sama banjir,” ujar Stevandi.

Kerusakan kawasan hulu sungai di Kabupaten Sigi juga diperkirakan sudah terjadi dalam waktu lama.

Menurut catatan WALHI, sejak Oktober 2018 – April 2019 saja kawasan tersebut sudah dilanda banjir bandang sebanyak enam kali.

(Sumber: ANTARA)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18