Mengenalkan Apa Itu Pelecehan Seksual pada Remaja

Pelecehan seksual tidak hanya terjadi di kalangan remaja yang berpacaran, tapi bisa juga dalam pertemanan dan persahabatan.

RUANG PUBLIK , NUSANTARA , INTERMEZZO

Senin, 29 Apr 2019 14:43 WIB

Author

Nurhayati

 Direktur Eksekutif Mitra Perempuan, Rita Serena Kolibonso. (Foto: KBR)

Direktur Eksekutif Mitra Perempuan, Rita Serena Kolibonso. (Foto: KBR)

KBR, Jakarta -  Angka kekerasan terhadap anak di Indonesia terus meningkat. Data Kementerian Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menemukan dari Januari hingga Maret 2018, mereka menerima sekitar 1.900 laporan.

Setengah di antaranya adalah laporan soal kekerasan seksual. Angka di lapangan dipercaya bisa jauh lebih tinggi. Salah satu penyebabnya karena masih banyak orang yang tidak tahu apa saja yang termasuk dalam pengertian kekerasan dan pelecehan seksual. Tak terkecuali anak dan remaja.

Mitra Perempuan adalah sebuah organisasi yang fokus pada isu ini. Lembaga ini sudah beberapa bulan terakhir aktif berkeliling mengedukasi para pelajar SMA di Jakarta soal pelecehan seksual. 

Direktur Eksekutif Mitra Perempuan, Rita Serena Kolibonso memaparkan, kegiatan yang mengangkat tema “Persahabatan Tanpa Pelecehan Seksual” ini ditujukan bagi siswa siswi SMA/SMK. Agar menarik para siswa, kegiatan ini diisi menonton film dengan tema pelecehan seksual lalu dilanjutkan dengan diskusi kelompok.  

Menurut Rita, dengan mengetahui apa itu kekerasan seksual dan siapa yang bisa menjadi korban, para remaja bisa mencegah itu terjadi terhadap dirinya dan lingkungan sekitanya. “Jadi ini menjadi salah satu kontribusi kami untuk memberi informasi dan sekaligus berinteraksi dengan remaja, sekaligus berdialog persoalan-persoalan pelecehan seksual yang mungkin saja mereka alami dan bagaimana mereka akan bersikap,” tutur Rita saat talkshow Ruang Publik KBR Kamis (14/03).

Menurut Rita, pelecehan seksual adalah tindakan seksual baik secara verbal maupun nonverbal yang ditujukan kepada seseorang dan akibatnya membuat korban tidak nyaman atau terganggu. 

“Pelecehan seksual menjadi realita dalam hidup mereka (remaja). Mereka juga berbagi bahwa mereka mengalaminya tidak hanya di kalangan tempat dia belajar, tapi lebih banyak di tempat-tempat umum. Di mana pelajar sebelum sampai ke sekolah, dia menggunakan fasilitas umum, bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal atau sudah lama dikenal,” jelas Rita.

Bentuknya pun beragam kata Rita. “Beberapa hal yang termasuk ke dalam pelecehan seksual secara verbal dan nonverbal seperti sentuhan fisik, menggoda, menggunakan gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, membicarakan hal-hal yang bersifat seksual, mengirimi pesan-pesan yang mengarah kepada seksual, dan sebagainya. Terlebih lagi jika hal-hal tersebut dilakukan secara paksa,” paparnya.

Ditambahkannya, pelecehan seksual tidak hanya terjadi di kalangan remaja yang berpacaran, tapi bisa juga dalam pertemanan dan persahabatan. “Seringkali hal ini menjadi hal-hal yang sebenarnya dari segi romantisme. Di satu sisi bisa dilihat ya waktu kejadian ‘oh mendadak (waktu) jalan disentuh secara seksual oleh pasangannya. Tapi kemudian terjadi sebuah penyesalan,” tambahnya.

Peran orangtua, lanjut Rita, sangat penting dalam mengawasi dan memerhatikan anaknya. “Sebagai orangtua harusnya menyadari apabila terjadi perubahan pada anak, dan selalu memerhatikan perilaku anak. Lebih baik lagi apabila anak tersebut sudah diberikan informasi terkait apa-apa saja yang termasuk pelecehan seksual sedini mungkin,” kata Rita.

Maka dia mendorong orangtua untuk sedini mungkin mengenalkan pada anak apa itu pelecehan dan kekerasan seksual agar mereka bisa mengenalinya dan berani melaporkan bila melihat atau mengalaminya sendiri. Ada sejumlah lembaga yang bisa dituju bila ingin melapor, salah satunya Women Crisis Centre/Mitra Perempuan. Pengaduan bisa dilakukan lewat telepon di (021) 837 90010, WhatsApp di 0817772729 atau melalui E-mail ke perempuanmitra@gmail.com.

Editor: Vitri Angreni 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945