Usaha Fotokopi dan Cetak di Jember ini Terima Pembayaran dengan Sampah

“Ketika diangkut di truk, itu dicampur juga. Akhirnya orang kan jadi males ya. Ngapain milah-milah toh akhirnya dicampur,”

NUSANTARA

Jumat, 15 Mar 2019 10:32 WIB

Author

Rosy Dewi

Usaha Fotokopi dan Cetak di Jember ini  Terima Pembayaran dengan Sampah

Dina melayani pelanggan fotokopi dengan menggunakan sampah sebagai alat pembayaran, Jember, Jawa Timur, Selasa (13/03/19). (Foto: KBR/Rosy Dewi)

KBR, Jember- Miris dengan edukasi pengelolaan sampah, sebuah usaha fotokopi dan percetakan di Jember menggunakan sampah sebagai alat pembayaran. Penggagas Percetakan Kreatif  Dina Putu Ayu Kristiyanti mengatakan, upaya  ini menyasar mahasiswa agar lebih bijak mengelola sampah.

“Harapannya satu, adek-adek mahasiswa itu bisa mengelola sampahnya secara mandiri,” ujar Dina yang membuka usahanya tak jauh dari kampus Universitas Jember, Jumat (08/03/2019).

Dina, suami, dan keponakannya mengelola usaha itu  sejak 2015.  Mereka buka pukul 5.30 setiap Senin sampai Sabtu. Berbagai jenis sampah seperti kertas, plastik, kaca dan kaleng diterima sebagai ganti biaya cetak.

Dina sudah menyiapkan timbangan elektronik dan mengatur perbedaan harga untuk masing-masing jenis sampah. Ia juga menerapkan sistem bank sampah, sehingga pelanggan tetap bisa membawa sampahnya dan menabung di percetakan. Uang tabungan di percetakan bisa dipakai untuk membayar di kemudian hari.

Sebagai guru biologi di Sekolah Menengah Atas Katholik Santo Paulus Jember, Dina merasa terbebani melihat kondisi tersebut. Sedikit banyak, ia ingin berperan dalam pengelolaan sampah di lingkungannya. Maka, selain mengajarkan konsep bank sampah di sekolah, ia juga membuka usaha percetakan ini.


Berdasarkan laporan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari, Jember, sampah yang masuk TPA mencapai 165 ton per hari. Itu adalah sampah campuran antara anorganik dan organik. Padahal bila dipilah, diolah dan didaur ulang, volume sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum bijak memilah sampah.


“Edukasi kelemahannya. Penyediaan tempat sampah terpilah jadi dua anorganik organik itu sudah banyak di Jember, bahkan sampai lima (macam), ada (tong sampah) warna-warni. Cuma masyarakat karena dia gak teredukasi, kadang mereka tertib untuk membuang sampah di tempat sampah. Tapi karena mereka gak tahu, akhirnya ya sudah tercampur,” jelas Dina.

Masalah sampah tidak berhenti sampai situ. Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember memang sudah menyiapkan lima jenis tong sampah untuk sampah organik, anorganik, bahan beracun berbahaya, kertas, dan residu. Sayangnya petugas pengangkut sampah   langsung memasukannya dalam satu truk.

Dina sempat menyaksikan sendiri, pagi hari di Alun-alun Kota Jember, petugas mencampur sampah ke dalam satu truk. “Ketika diangkut di truk, itu dicampur juga. Akhirnya orang kan jadi males. Ngapain milah-milah toh akhirnya dicampur,” keluh Dina.

UPT Pengelolaan Sampah DLH Jember beralasan pemulung sudah terlebih dahulu mengambil sampah daur ulang di tong, sehingga petugas hanya perlu mengangkut sisanya ke TPA.

“Itu karena sudah diambil pemulung. Tinggal yang tidak bisa diolah saja yang tertinggal di situ,”dalih  Kepala Seksi Kebersihan, UPT Pengelolaan Sampah DLH Jember, Chairudin pada Jumat (08/03/2019).

Meski begitu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember mengapresiasi langkah Dina  menggunakan sampah sebagai alat pembayaran. Faried Bakhtiar, Staf  Bagian Sampah dan Kebersihan DLH Jember, mengatakan tindakan ini berperan dalam mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
 
“Itu salah satu bentuk pengelolaan sampah swadaya, swakelola lah ya. Jadi memang kita tujuan kita itu kan mengurangi sampah yang masuk ke TPA.  Jadi yang sampai ke TPA harus terbuang, tidak terpakai lagi sehingga TPA tidak sampai membeludak,” tukas Faried Bakhtiar, Staf  Bagian Sampah dan Kebersihan DLH Jember, pada Selasa (12/03/2019).
 
Upaya Dina juga mendapat  meringankan para mahasiswa di sekitar Universitas Jember.  Yuniar Putri Pratiwi  mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember, mengatakan   keberadaan percetakan berbayar sampah bisa membantu mengurangi pengeluarannya untuk fotokopi tugas-tugas kuliah. Dalam satu bulan, Yuniar mengaku bisa menghabiskan uang untuk fotokopi mencapai 100.000. Percetakan bebayar sampah juga membantunya belajar mengelola sampah.

 “Ya bagus sih. Soalnya sekarang lihat aja sekitar sini sampah dibuang gitu kayak yang bener-bener sisa dari kegiatan manusia gitu kan. Ketika itu bisa jadi berguna kenapa tidak,” ujar Yuniar pada Selasa (12/03/2019).
 
Sependapat dengan Yuniar, Amizatus Liana Afikoh juga merasa percetakan berbayar sampah sangat bermanfaat. Percetakan tersebut berperan dalam mengurangi jumlah sampah dan menghemat pengeluaran mahasiswa.

Amizatus juga merupakan salah satu mahasiswa Universitas Jember. Pengeluarannya kira-kira 20.000 per bulan untuk fotocopi. Percetakan berbayar sampah membantu mengurangi pengeluaran bualanannya.
 
“Baguslah malah mengurangi sampah-sampah yang ada di Jember, menghemat pengeluaran, ya bermanfaatlah sampah itu jadinya nanti,” tambah Amizatus, pada Selasa (12/03/2019).


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Seleksi CPNS 2019 Diskriminatif

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10