Ini Asyiknya Sekolah Rumah

Keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas proses pendidikan yang dijalani anak-anaknya.

RUANG PUBLIK , NUSANTARA

Kamis, 21 Mar 2019 11:36 WIB

Author

Nurhayati

Aar Sumardiono dan Mira Julia, praktisi sekolah rumah dan pendiri RumahInspirasi.com. (Foto: KBR)

Aar Sumardiono dan Mira Julia, praktisi sekolah rumah dan pendiri RumahInspirasi.com. (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Istilah homeschooling atau sekolah rumah dalam beberapa tahun terakhir makin sering kita dengar. Beragam alasan orangtua memilih sekolah rumah untuk anak mereka mulai dari ketidakpuasan terhadap pendidikan yang didapat di sekolah hingga alasan anaknya berkebutuhan khusus. 

Aar Sumardiono dan Mira Julia, Pendiri website RumahInspirasi.com  adalah orangtua yang mempraktikkan homeschooling bagi ketiga anaknya yang berusia 18, 14 dan 10 tahun.

Menurut Aar, sekolah rumah substansinya adalah orangtua yang memilih mendidik anaknya sendiri. Artinya, keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas proses pendidikan yang dijalani anak-anaknya. 

“Kuncinya, orangtua harus siap menjadi pendidik. Mulai dari menanamkan perubahan mindset dan menjadi fasilitator proses belajar anak. Ketika anak dewasa, orangtua berperan sebagai coach untuk mencapai tujuan anak” jelas Aar saat Talkshow Ruang Publik KBR pada Kamis (31/1/2019).

Homeschooling bukan sebuah lembaga atau institusi, bukan pula mendatangkan guru atau pengajar ke rumah. 

“Hal yang membedakan homeschooling dan sekolah formal adalah, dalam sekolah formal itu mendelegasikan fungsi-fungsi pendidikan pada sistem dan profesional para guru, sedangkan dalam homeschooling, orangtualah yang menempati posisi sebagai kepala sekolah,” paparnya.

Selain menjadi kepala sekolah, Aar mengatakan orangtua juga harus merancang pendidikan seperti apa yang terbaik untuk anak-anak. Baru setelah itu memikirkan kurikulumnya, memilih belajar sendiri atau belajar online, atau memakai jasa guru? Termasuk mengatur jadwal dan menentukan untuk memilih jalur akademis atau profesional (bakat, musik, seni, teknologi, dsb) 

Dia menjelaskan kalau orangtua dan anak memilih homeschooling jalur akademis, maka anak akan mengikuti ujian kesetaraan paket A (setara SD), paket B (setara SMP) dan paket C (setara SMU) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Jika sudah memiliki ijazah paket C, maka anak tersebut bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Untuk mengikuti ujian ini, ada materi yang sudah disiapkan untuk anak agar bisa mengenal pola soal, dan materinya bisa dipelajari via online

“Kalau dibilang ijazahnya dianggap minor, karena ijazah atau ujian paket ini diambil juga oleh asisten rumah tangga, buruh, anak-anak putus sekolah, anak jalanan dsb,  kami tidak peduli, yang penting legal. Dan dalam perjalanannya, banyak sekali anak-anak homeschooling dengan ijazah paket C yang mendaftar di perguruan tinggi  ternama,” tegasnya.

Bagi Aar dan Mira, tujuan menjalankan sekolah rumah ini utamanya bukan dalam bidang akademis melainkan menyiapkan anak-anak menjadi pelajar yang mandiri (otodidak) dalam berbagai hal. 

“Kalau buat kami, dari dia (anak-anak) mulai melek mata sampai dia tidur lagi, itu sebenarnya proses belajar. Jadi belajar itu gak hanya akademis. Kemampuan anak, mungkin mana urutan kebiasaan paginya, sampai kemudian saat malam, misalnya doa dulu sebelum tidur, itu bagian dari belajar,” tutur Mira.

Meskipun begitu, Aar dan Mira paham mereka tetap memiliki kewajiban menerapkan pembelajaran akademis dalam homeschooling di rumahnya. Misalnya dalam memberikan pelajaran matematika dan Bahasa Inggris, suami isteri ini  mengajarkan anak-anaknya dengan menggunakan materi online untuk membantu menstrukturkan proses belajar. Dan anak-anaknya telah melakukannya hampir setiap hari dari sejak kecil. 

Aar juga menjelaskan model pembelajaran Experiential Learning. Menurutnya, pembelajaran ini merupakan salah satu pembelajaran yang sangat berpengaruh dalam jalur sekolah rumah, belajar melalui dunia nyata atau pengalaman akan menjadi kelebihan tersendiri.

“Jadi experiential learning, world learning, travelling dan sebagainya, adalah model-model alat yang digunakan untuk proses belajar. Jadi fleksibel alatnya, fleksibel caranya dibandingkan dengan konsep pendidikan konvensional yang hanya duduk di kelas mendengarkan ceramah. Belajar dengan mengalami, itu yang paling sering dijalani didalam proses homeschooling,” jelas Aar.

Aar dan Mira mengklaim, dengan mengambil jalur sekolah rumah, ada beberapa kelebihan yang bisa didapat. Seperti, lebih bisa mengasah logika anak, anak dapat belajar secara mandiri (otodidak) tentunya dalam jangkauan yang lebih luas daripada sekolah biasa. Termasuk juga dalam menghadapi problem solving dan biaya yang sebenarnya lebih rendah, tergantung dari sistem pembelajaran yang diambil oleh orangtua. 

“Peluang yang sangat besar adalah kita bisa fokus pada kekuatan anak, jadi tidak disamaratakan. Kemudian minatnya apa, bakatnya apa, itu yang kemudian dikembangkan lebih awal,” papar Aar.

Tetapi tentu saja, saat orangtua memutuskan untuk mengambil jalur homeschooling untuk anaknya, orangtua harus bertanggungjawab dan siap menjadi orangtua pembelajar untuk anaknya. 

“Jadi kalau mau homeschooling, berarti sebenarnya yang perlu fokus adalah orangtuanya, bukan kurikulum buat anaknya. Jadi kuncinya dalam homeschooling adalah anak nyaman bersama orangtua dan orangtua nyaman bersama anak,” tambah Mira.

Aar dan Mira sudah tertarik dengan homeschooling ketika mereka masih pengantin baru, sekitar 19 tahun lalu. Di awal proses, mereka terinspirasi homeschooling yang dilakukan para orangtua yang ada di Amerika yang menjabarkannya lewat blog.  Dari situ mereka tahu ragam sekolah ini dan bagaimana menjalankannya.

Selain itu Aar dan Mira melihat semakin banyak pendidikan yang terstandarisasi seperti sistem SD-SMA selama 12 tahun, mempelajari pembelajaran yang sama.  Padahal, Aar sangat yakin bahwa setiap anak punya potensi yang unik, sehingga membuat ia berpikir, mencari cara atau model pendidikan lain yang bisa memfasilitasi keunikan setiap anak. 

Dalam sistem pendidikan Indonesia, homeschooling telah diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2002, dimana terdapat 3 jalur pendidikan. Pertama, jalur formal yaitu sekolah pada umumnya yang terstruktur dan berjenjang. Kedua, jalur nonformal yaitu pendidikan di luar pendidikan formal, tetapi terstruktur, semisal kursus. Ketiga, jalur pendidikan informal yaitu pendidikan dalam keluarga dan masyarakat, salah satunya adalah homeschooling

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17