Bantargebang Kini Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

PLTSa Bantargebang bisa menghasilkan daya listrik sebesar 700 kwh. Teknologi ini juga diklaim punya dampak lingkungan yang kecil, serta bisa mengurangi sampah dengan cepat.

RUANG PUBLIK , BERITA , NUSANTARA

Rabu, 27 Mar 2019 15:34 WIB

Author

Adi Ahdiat

Bantargebang Kini Punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

Ilustrasi: PLTSa di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Solo, yang direncanakan selesai tahun 2021 (Foto: Antara/Mohammad Ayudha)

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, resmi beroperasi mulai hari Senin (25/3/2019).

Teknologi yang dibangun sejak Maret 2018 lalu ini adalah PLTSa aktif pertama di Indonesia.

Menteri Ristekdikti, Mohamad Nasir, berharap PLTSa ini bisa menjadi solusi pengelolaan sampah nasional, terutama di kota-kota besar Indonesia.

“DKI Jakarta setiap hari produksi sampah 8.000 ton dan Bekasi produksi 1.800 ton. Jadi total ada sekitar 10.000 ton sampah per hari (di Bantargebang). PLTSa Merah Putih Bantargebang ini merupakan pilot project sehingga baru mampu mengolah 100 ton per hari,” jelas Mohamad Nasir dalam siaran pers Kementerian Ristekdikti (25/3/2019).

Untuk ke depannya, Menteri Ristekdikti mengatakan akan terus mendorong Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk menghasilkan teknologi yang mampu mengolah sampah sebanyak 2.000 sampai 5.000 ton per hari.

Ia juga menyebut, PLTSa ini merupakan program rintisan yang nantinya bisa dikembangkan untuk pengelolaan sampah baik di kota maupun di pedesaan.


PLTSa Bantargebang Mampu Hasilkan Listrik 700 kWh

Dalam siaran pers Kemristekdikti, Kepala BPPT, Hammam Riza, menyebut bahwa PLTSa Bantargebang mampu menghasilkan listrik sebanyak 700 kWh. 

Daya tersebut terbilang cukup rendah jika dibanding rata-rata konsumsi listrik per kapita nasional. 

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang tahun 2018 lalu rata-rata konsumsi listrik Indonesia sudah mencapai 1.064 killowatt hour (kWh) per kapita.

PLTSa Bantargebang juga dinilai masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan.

Pilot project ini merupakan hasil kajian desain Tim BPPT. Saat ini plant masih dalam kondisi commissioning, yang tentunya masih ada beberapa komponen atau proses yang perlu disempurnakan untuk PLTSa ini berjalan dengan lancar,” ujar Hammam Riza (25/3/2019)

PLTSa Bantargebang bekerja dengan cara membakar berbagai jenis sampah, kecuali logam, dengan suhu diatas 950 derajat.

Hasil pembakaran tersebut kemudian akan menghasilkan uap untuk menggerakan turbin pembangkit listrik.

Menurut BPPT, teknologi ini sudah diterapkan di negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan sejumlah negara Eropa lain.

Teknologi PLTSa ini juga diklaim memiliki dampak lingkungan kecil, serta bisa mengurangi sampah dengan cepat.

(Sumber: www.ristekdikti.go.id)

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17