Ribuan Hektare Lahan Jagung di NTB Gagal Panen, Petani Tak Dapat Asuransi

Petani jagung yang gagal panen tidak akan mendapatkan asuransi maupun penggantian bibit. Hal itu, disebabkan tanaman jagung masih belum masuk komoditas yang dimasukkan dalam asuransi.

BERITA , NUSANTARA

Senin, 05 Feb 2018 22:02 WIB

Author

Zaenudin Syafari

Ribuan Hektare Lahan Jagung di NTB Gagal Panen, Petani Tak Dapat Asuransi

Ilustrasi. Tanaman jagung rusak di NTB. (Foto: bpbd.ntbprov.go.id/Publik Domain)

KBR, Mataram - Sekitar 1,700 hektare lahan tanaman jagung di Nusa Tenggara Barat diterjang angin kencang hingga menyebabkan gagal panen.

Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menyebut lokasi lahan jagung itu berada di Pulau Lombok dan Sumbawa. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB, Husnul Fauzi mengatakan jumlah areal yang gagal panen akibat diterjang angin kencang itu didasarkan pada laporan Balai Proteksi Tanaman Pangan (BPTP). 

BPTP bertugas mendata tanaman pangan yang rusak akibat bencana maupun hama penyakit di daerah ini.

Husnul Fauzi mengatakan petani jagung yang gagal panen tidak akan mendapatkan asuransi maupun penggantian bibit. Hal itu, disebabkan tanaman jagung masih belum masuk komoditas yang dimasukkan dalam asuransi. 

"Makanya hanya segitu data yang ada di BPTP yang mengurus mengenai bencana, termasuk angin kencang. Namun untuk jagung kita mengupayakan agar diberikan juga asuransi. Ada istilah puso di tanaman padi, kalau itu bisa diganti. Kalau di asuransi bisa diklaim. Kalau di jagung belum ada, karena tanaman jagung baru booming sekarang," kata Husnul Fauzi, di Mataram, Senin (5/2/2018).

Meskipun ada seribuan hektar tanaman jagung yang gagal panen, Husnul mengatakan tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi. Ia beralasan jika dihitung dari seluruh areal tanam jagung yang mencapai 315 ribu hektar, jumlah yang gagal panen itu berada di bawah satu persen. 

Ke depannya, kata Husnul, komoditas jagung perlu menjadi perhatian pemerintah untuk mendapatkan asuransi. Terutama, jika terjadi gagal panen akibat bencana dan hama penyakit.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NUSANTARA

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17